MAKASSAR, BKM– Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel, Asmanto Baso Lewa mengapresiasi langkah TNI yang melakukan pemutaran film G30S/PKI sesuai instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Menurutnya, apa yang dilakukan itu merupakan hal baik, untuk memberi pandangan maupun pengetahuan, khususnya bagi generasi muda yang belum terlalu paham sepak terjang PKI yang menorehkan sejarah kelam bagi perjalanan bangsa.
Film G30S/PKI menggambarkan bagaimana partai komunis meneror dan merongrong negara kesatuan Indonesia.
Kata Asmanto, masyarakat harus terus diingatkan dan diberi pemahaman agar senantiasa waspada terhadap semua bentuk-bentuk aktifitas yang bisa merongrong keutuhan berbangsa dan bernegara. Salah satunya dengan menampilkan film-film yang membuka mata dan menyadarkan bangsa akan bahaya laten komunis.
“Apa yang dilakukan TNI wajib diberi dukungan. Karena berusaha menyadarkan kita akan bahaya laten yang bisa merongrong keutuhan berbangsa dan bernegara. Harusnya sebagai anak bangsa, kita semua punya tanggung jawab yang sama menjaga bangsa,” ungkapnya, Jumat (22/9).
Lebih jauh dikemukakan, sebagai bangsa dengan karakter beragam, sangat penting untuk tetap mewaspadai munculnya ideologi-ideologi asing yang bertujuan menghancurkan dan memecah belah bangsa.
Dia pun tidak bisa menafikan jika saat ini memang ada upaya-upaya untuk menghidupkan kembali PKI di tanah air. Pasalnya, atribut-atribut partai tersebut sudah kerap muncul di berbagai tempat.
Mulai dari kaos berlambang PKI, bendera dan banyak lagi.
Namun di Sulsel, dia mengatakan sejauh ini belum mendeteksi adanya gerakan-gerakan bahaya laten tersebut. Kendati begitu, dia tetap mengingatkan masyarakat agar terus waspada terhadap berbagai aktifitas atau gerakan yang patut dicurigai didalangi oleh PKI.
Pihaknya juga intens melakukan pengawasan dan merapatkan barisan, termasuk mengoptimalkan kerja-kerja intelijen untuk meminimalisir ruang untuk PKI berkembang.
Kepada masyarakat, Asmanto juga mengimbau hati-hati dalam bermedia sosial. Karena medsos bisa menjadi wadah yang subur untuk mengadu domba dan memecah belah persatuan masyarakat.
PKI dideteksi melakukan adu domba masyarakat dengan menggunakan tangan ketiga atau proxy war. Baik secara fisik maupun non fisik.
“Kalau fisik lebih mudah diantisipasi. Tapi kalau non fisik menggunakan kecanggihan teknologi, di era digital sekarang melalui media sosial, itu yang sangat berbahaya, ” pungkasnya. (rhm)
Pemprov Apresiasi Pemutaran Film G30S/PKI
×

