MAKASSAR, BKM — Pasca diresmikan Presiden Joko Widodo November tahun lalu, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia hingga saat ini masih sepi.
Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel, Sulkaf S Latief, dalam seminggu, aktifitas bongkar muat ataupun jual beli ikan hanya sesekali saja dalam seminggu.
Ada beberapa persoalan yang menyebabkan aktifitas di sana sepi. Mulai dari dangkalnya air laut di perairan
hingga ketersediaan air bersih yang masih minim.
“Masih sepi. Aktifitas disana belum ramai. Hanya ada beberapa kapal yang sandar, ” ungkapnya.
Kepala UPT PPN Untia, Andi Mannojengi, menambahkan, salah satu permasalahan utama nelayan ogah berlabuh di Untia disebabkan oleh tidak adanya air bersih.
“Kami sudah mencoba untuk pengeboran air sebanyak 2 kali sedalam 300 meter tetapi airnya belum layak atau asin jadi untuk mengatasinya sementara kami pengadaan mobil tangki air dengan sistem beli di lokasi PAM. Kemudian disalurkan ke kapal-kapal ataupun unit pengolahan. Ini yang jadi permasalahan besar juga kata nelayan,” ungkap Mannojengi.
Kata Mannojengi, pihaknya akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk penyediaan air bersih. Saat ini ada dua perusahaan yang akan membangun unit pengolahan air dari air laut menjadi air tawar. Perusahaan tersebut nantinya sebagai penyedia air bersih utama di pelabuhan.
Andi Mannojengi menjelaskan, harusnya hingga bulan ini jumlah kapal yang aktif di pelabuhan (Untia) sudah ada 50.
Hanya saja, yang terdaftar baru ada 12 kapal. Perusahaan penampung ikan juga belum ada yang berminat.
“Untuk kapal baru ada 12 kapal yang aktif, rencana kita target kembali sampai dengan bulan 9 setidaknya ada 40 kapal yang akan operasional aktif di PP Untia,” katanya.
Pelabuhan Untia berlokasi sangat strategis di Kawasan Industri Makassar (Kima) dan dekat dengan pelabuhan umum untuk ekspor. Pelabuhan ini bahkan diresmikan oleh Presiden RI, Jokowidodo pada bulan November, tahun lalu. Karena itu, Pelabuhan Untia diharapkan menjadi sentra produksi perikanan yang terhubung dengan pelabuhan perikanan lain di Sulawesi Selatan, yaitu Pelabuhan Perikanan (PP) Cempae, PP Maccinibajji, PP Kalibone, PP Potere, PP Beba, PP Labuang, PP Barombong, PP Boddia, PP Lonrae, PP Birea, PP Bentenge, PP Kajang, PP Tongke-tongke, dan PP Lappa.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin mengatakan, Pelabuhan Untia masih perlu dilengkapi beberapa fasilitas pendukung agar dapat berfungsi optimal.
“Tidak mungkin kapal bersandar di situ kalau fasilitas lain belum tersedia,” ujar Syahrul.
Menurutnya, sejumlah fasilitas yang sementara ini masih perlu dibangun dan sedang dalam penanganan komprehensif, antara lain fasilitas pengisian BBM dan pabrik es.
“Kalau itu sudah ada. Tanpa disuruh pun, kapal akan bersandar disitu. Kalau Pelabuhan Untia ini, saya optimistis tidak sampai setahun sudah ramai,” katanya. Apalagi kapal-kapal yang bersandar di Barombong, dekat Benteng Somba Opu dan di Sungai Tallo hingga area Maros bisa mencapai 500 kapal,” pungkasnya. (rhm)

