SIDRAP, BKM — Seluas 7.000 hektar lahan milik petani terancam tak bisa ditanami pada musim tanam (MT) Oktober 2017-Maret 2018 (Okmar).
Pemicunya, salah satu saluran induk irigasi Saddang saluran induk Belawae di Sipong yang tengah dalam perbaikan.
Tujuh Ribu hektar lahan tersebut tersebar di Kecamatan Maritengngae Timur meliputi Desa Sereang, Keurahan Wala dan kelurahan Watang SIdenreng dan Empagae.
Keterlambatan pengerjaan BR1 dan BR2 di Hulu Desa Sereang Sipong membuat para petani di dua kecamatan itu khawatir tak bisa menanam MT Okmar ini karena pengerjaan diprediksi masih akan lama memakan waktu hingga dirampungkan.
Padahal petani dan pemerintah sudah sepakat melalui Tudang Sipulung tingkat Kabupaten Sidrap 1 Oktober 2017 saluran irigasi Induk Saddang di Rappang BR34 disepakti dibuka. Namun, hingga saat ini belum dialirkan juga air.
”Kami khawatir jadwal MT Okmar bergeser dan kami terlambat menanam karena saya lihat pengerjaan proyek perbaikan saluran Irigasi belum rampung dan masih membutuhkan waktu yang lama diselesaikan rekanan,”ujar Ketua Kelompok Tani Pengguna Air Sidrap, La Tallesse, Minggu (8/10).
Menurutnya, keterlambatan pengerjaan saluran Ipong Belawa itu berdampak pengaruh terhadap 7 ribu hektar lahan sawah di kecamatan maritengngae dan Watang Sidenreng.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA Dinas PSDA Sidrap Muh Yusuf Thamrin, mengakui keterlambatan pengerjaan saluran Sipong Belawa itu disebabkan karena faktor banjir pada Juli 2017 lalu. Padahal, pemerintah juga sudah akan memperbaiki pasca banjir, namun sejumlah petani pada saat itu masih banyak yang membutuhkan air irigasi.
“Memang terlambat dikerja karena itu tadi. Ada kelompok tani banyak mengusulkan untuk menunda pekerjaan irigasi Sipong sehingga Saluran Induk Saddan di Rappang BR34 terpaksa dialirkan,” ungkap Yusuf, Minggu kemarin.
Menurutnya, proses pekerjaan saluran itu memebutuhkan waktu yang lama karena ulah masyarakat yang membuang sampah terutama batang pisang yang menyumbat saluran gorong-gorong terutama tebusan buangan silang saluran Sipong.
(ady/C)
7.000 Hektar Laham Terancam tak Ditanami
×

