BERJUANG menghidupi keluarga seorang diri dilakoni setiap hari Mbak Sri, seorang pemilik tempat pencucian motor di Jalan Prof Abdurrahman Basalamah atau Jalan Racing Centre.
Laporan: AGHITS RENALDY
Beliau berjuang seorang diri dikarenakan sang suami tidak mampu lagi menafkahi keluarga. Alasannya adalah, syaraf kedua mata suami Mbak Sri telah rusak beberapa tahun yang lalu. Jadi suaminya tidak bisa melihat normal lagi seperti kebanyakan orang.
Olehnya itu, Mbak Sri memutuskan untuk membanting tulang menghidupi suami dan kelima anaknya yang tiga diantaranya masih sekolah.
Selain sebagai pemilik tempat cuci motor, warga Jalan Sukaria 10 No 8 RW 7/RT 7 ini juga bekerja sambilan sebagai tukang pijat. Mbak Sri baru akan memijat jika ada pelanggan yang membutuhkan jasanya. Dan jika tidak, Mbak Sri hanya akan menunggu di tempat pencucian motor saja sembari memperhatikan pegawainya bekerja. Penghasilan sebagai seorang tukang pijat tidak seberapa, hanya cukup untuk menambah uang makan saja. “Kalau penghasilan jadi tukang pijat, lumayanlah untuk menambah uang makan. Karena saya tidak pernah mematok harga untuk jasa pijat saya,” ungkapnya.
Sementara usaha cuci motor yang dibukanya sejak 2016 juga cukup membantu. Penghasilan perhari Mbak Sri tidak menentu, tergantung pelanggan yang datang. Biaya pencucian motor di tempat Mba Sri sekitar Rp20.000 per motor, dibagi dua dengan karyawannya menjadi Rp10.000. Mba Sri tidak terlalu menuntut untuk soal penghasilan kepada para pegawainya. Karena, Mba Sri tidak ingin membebani pegawainya sendiri. Kalau sedang ramai, Mbak Sri bisa kedatangan pelanggan sekitar 30-40 motor perhari. Namun ketika musim hujan tiba, motor yang datang untuk dicuci hanya 10 perharinya. Yang artinya Mbak Sri hanya menerima Rp.100.000 perharinya.
Ditanya soal ramainya pencucian motor, wanita berumur 47 tahun itu mengaku jika pencucian motor ramai jika kondisi panas kemudian hujan dan panas begitu seterusnya orang yang mencucikan motor banyak. Sepinya ya kalau panas terus atau hujan terus frekwensi orang mencucikan motornya kurang.
Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membuka usaha pencucian motor ini adalah mesin kompresor , sumur , dan juga pompa air selain itu ditambah juga bahan-bahan yang digunakan untuk pencucian dan penyemiran. Oleh karena itu kini dia mulai menabung sedikit-demi sedikit untuk kebutuhan keluarganya.
“Sukanya sangat banyak, selain menambah relasi dengan pelanggan, dapat bercengkrama dengan banyak orang serta kadang mendapat tips dari pelanggang. Pelanggan meningkat 20 persen ketika bulan puasa dan hari raya tiba,” katanya.
Melihat kenyataan itulah maka kini usaha pencucian sepeda motor ini marak dimana-mana dan kelihatannya usaha mereka lancar-lancar saja. Seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan sepeda motor , maka usaha cuci motor ini juga tumbuh dimana-mana.(*)

