pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berjualan Sampai Keluar Daerah

SEJUMLAH kabupaten di Sulsel menjadi pilihan Haris untuk mencari sesuap nasi. Pangkep, Toraja, dan Masamba menjadi daerah favorit baginya untuk memasarkan batu akik yang dibuatnya. Sebab harga jual batu akik masih tinggi.

Laporan: ARIF AL QADRY

Haris berkeliling kabupaten/kota di Sulsel setiap awal bulan. Dia berjualan di pasar malam ataukah di tempat-tempat keramaian. Dengan respon masyarakat yang lebih baik, dia sering membawa pulang uang antara Rp500 ribu sampai Rp1 juta.
” Sering saya bersama teman-teman berjualan hingga keluar daerah kalau sudah mau masuk bulan baru atau tanggal baru. Kalau rezeki bagus, kita bisa bawa uang sedikitnya Rp500 ribu sampai Rp1 juta,” sebutnya.
Alasan Haris sampai sekarang bertahan berjualan batu akik, karena sejak dulu ia senang dan hobi koleksi batu akik. Ada banyak batu akik dimilikinya mulai dari batu kalimaya, sisik naga, bacan dan obi.
Karena ingin menambah koleksi baru batu akiknya, Harismenjual beberapa batu akiknya. Uang yang dia dapat dari jualan batunya dia gunakan membeli bongkahan batu seharga Rp2 juta. Satu bongkahan batu akik bisa menghasilkan cukup banyak cincin batu akik siap pakai yang bisa untuk dikoleksi pribadi dan dijual.
Haris memang memiliki keterampilan membentuk batu akik dari bongkahan menjadi cincin siap pakai. Dengan cara menggosok dan poles. Alat pemotong dan poles batu akik juga dia punya. Itu dia dapatkan setelah ikut dengan temannya menjadi penggosok dan pemoles batu.
“Sebelum jualan batu, dulu saya ikut sama teman jadi penggosok batu. Tip yang saya dapat saya belikan batu. Sedikit demi sedikit batu akik yang saya punya bertambah dan saya mulai menjualnya,” katanya.
Selain karena adanya penjualan batu akik secara online atau dalam jaringan, Haris mengaku sepinya penjualan batu akik karena banyaknya penjual batu akik membanting harga jauh di bawah modal. Penjual batu akik yang membanting harga karena mereka sudah tidak ingin menjual batu akik dan kembali beralih ke profesi awalnya.
“Sekarang banyak mi penjual batu akik online, itumi sepi juga. Selain itu, dulu banyak penjual musiman batu akik yang dimana sebelumnya jualan baju atau gorengan, beralih menjadi penjual batu akik bongkahan. Setelah peminat batu mulai sepi, mereka banting harga bahkan di bawah modal. Itu mi bikin jatuh karena masyarakat sebut kita ini jual terlalu mahal,” katanya.
Sebelum berjualan di Jalan Hertasning, Haris sempat berjualan di beberapa tempat dengan membuka lapak mulai di Jalan Sunu, Jalan Gatot Subroto, dan di Jalan Perintis Kemerdekaan, depan perwakilan Perusahaan Otobus (PO). Dia pindah ke Jalan Hertasning karena peminat batu akiknya mulai hilang.
Belum lama dia berjualan di Jalan Hertasning. Ia mulai berjualan di Jalan Hertasning setelah dipanggil oleh temannya yang sudah cukup lama berjualan di samping lapangan bola tersebut. Meski animo masyrakat datang membeli atau sekadar melihat-lihat cincin di lapak jualannya juga rendah, setidaknya lokasi tersebut bisa melindunginya dari hujan dan panas.
” Saya buka dari 09:00 sampai 15:00. Jualannya sama, masih sepi. Tapi lokasinya bagus karena ada atap yang bisa lindungi saya dan barang-barangku dari hujan dan panas. Dulu di Jalan Perintis terbuka, kalau hujan harus segera tutup barang pakai terpal,” sebutnya.(arf)



×


Berjualan Sampai Keluar Daerah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar