pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tensi Pilwali Makin Meninggi

MAKASSAR, BKM–Tensi politik jelang pendaftaran pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar terus meninggi. Aksi begal dukungan, perusakan alat sosialisasi hingga kasus pemukulan tim menambah daftar semakin memanasnya ketegangan jelang Pilwali nanti. Belum lagi masalah kampanye negatif hingga kampanye hitam. Dan terakhir pemeriksaan terhadap Wali Kota Makassar petahana Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto di Mapolda Sulsel juga disebut beraroma politik.
Pengamat politik dari Unibos 45, Dr Arief Wizaksono menyebut bila pemeriksaan bisa saja disebut beraroma politik karena dilakukan pada masa tahapan sedang berjalan. “Ya, karena pemeriksaan itu dilaksanakan jelang tahapan Pilkada, tentu aromanya politis,”ujar Arief, Selasa (2/1). Untuk itu, guna menghindari spekulasi yang dapat berimbas kepada hal-hal yang tidak diinginkan, “Saya pikir pihak kepolisian harus juga transparan tentang apa sebenarnya yang menjadi substansi pemeriksaan Danny. Kasus apa saja, dan sebagainya,”jelasnya.
Hal sama dilontarkan dosen politik UIN Alauddin Syahrir Karim. Syahrir mengatakan jelang pendaftaran tentu tensi politik terbilang tinggi, sehingga potensi terjadinya gesekan di grass root juga cukup besar.
Hal ini bukan tidak beralasan, pasalnya baru-baru ini tindakan tidak terpuji yang diduga dilakukan oleh oknum yang tidak dikenal (OTK) melakukan pengroyokan terhadap Ketua RW 05 Kelurahan Tamarunang, Muh Jufri.
Pengroyokan itu diduga lantaran baliho milik salah satu paslon calon Wali Kota Makassar diturunkan oleh warga. Sehingga OTK tersebut mendatangi kantor Lurah Tamrunang dan memukuli Ketua RW 05. Akibatnya korban mengalami luka robek dan melaporka ke Polsek Mariso.
Syahrir menjelaskan bahwa, pada umumnya tim relawan kandidat yang telah dibentuk hanya mengutamakan militansi semata, namun lupa membekali pengatahuan tentang proses Pilkada yang yang damai. “Memang sangat riskan sekali di arus bawah, karena tim relawan adalah orang yang militan yang sebenarnya bekal-bekal politik mereka agak kurang. Jadi mestinya memang tim relawan harus dibekali dengan pengatahuan yang sifatnya taktis sehingga mereka tidak melakukan hal yang anarkis,” ungkapnya.
Bahkan dia menyinggung bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang selama ini bersosialisasi untuk running pada hajatan politik lokal lima tahunan mendatang. Dia mengatakan selama ini ada kecenderungan kontestan hanya membangun militansi tim, tanpa memperdulikan pendidikan politik.
“Penyakitnya selama ini oleh kontestan, mereka membangun sebuah tim yang sebenarnya pekerja-pekerja militan dalam arti, hanya untuk prinsip memenangkan calonnya, tanpa memikirkan bagaimana konsekuensi kedepannya,” ucapnya.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, kandidat pasangan calon seharusnya mengutamakan prinsip damai dalam suasana politik yang cenderung potensi konfliknya terbuka. Sehingga pesan damai dari kandidat itu dapat diterapkan oleh tim relawan.
Hanya saja, pada kondisi tertentu, justru kandidat tersebut yang memancing sulutnya konflik di arus bawah. “Terkadang memang tokoh politik ini memancing suasana sebenarnya, mestinya para kontestan pada khususnya, memberikan pencerahan kepada tim kebawah. Kenapa tim memanas? itukan tensi politik di tingkat elit itu yang mempengaruhi ditingkab bawah, itu yang terjadi sekarang,” tutupnya. (ita/rif)



×


Tensi Pilwali Makin Meninggi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar