LUWU, BKM — Bupati Luwu Andi Mudzakkar alias Cakka secara resmi membuka pelatihan petugas Survei Sosial Ekonomi Nasional di Hotel Subur, Jumat (2/2/2018).
Dihadapan peserta pelatihan sensus, Cakka menyebut 60 persen petani tidak pernah memakan hasil panen gabahnya. Kenapa? karena di jual ke pasaran lalu mereka menkonsumsi raskin
“Contoh harga raskin saat ini Rp1000 perkilo gram sementara harga gabah Rp 5000 jadi 60 persen petani memang menjual hasil gabahnya dan itu bukan ukuran miskin jika hanya mengambil sampel konsumsi beras raskin,” kata Cakka.
Menurutnya sekarang banyak pemerintah pusat mengucurkan bantuan sehingga banyak yang pura-pura miskin.
“Makanya pesan saya kepada peserta dalam mengambil data survei sosial ekonomi harus valid,” ujar bupati Cakka.
“Soal angka kemiskinan memang sering membuat saya risih, padahal tingkat ekonomi kita di Luwu masuk rangking sembilan di Sulsel. Coba bandingkan tingkat ekonomi di Luwu dengan Palopo, Lutra dan llLutim, sementara jumlah tabungan uang masyarakat Luwu justru lebih tinggi tersimpan di bank dari masyarakat di tiga daerah itu,” terangnya.
“Jadi saya imbau patokan survei sosial ekonomi harus valid di Luwu,” papar Cakka
Sementara Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Luwu Abdul Salam menjelaskan kegiatan ini di lakaanakan 8 hari, 1 hingga 8 februari 2018.
Pelaksanaan sensus ekonomi nasional adalah mengumpulkan data komunitas tanaman pangan bertujuan untuk memperbaiki pengumpulan metode data pertanian berupa bibit varitas beras , kegiatan potensi desa.
Kemajuan desa yang diukur dari sarana dan prasarana desa, dimana bertambahnya anggaran desa. Sehingga potensi pendataan desa akan di lakukan setiap tahun.
Data sosial ekonomi desa mendukung pengukuran angka IPM dan data kemiskinan sebagai bahan pengambikan kebijakan pemerintah.
“Survei sosial ekonomi sosial di harapkan menjadi jendela informasi monitoring dan perencanaan pembangunan,” kata Abdul Salam.
(irwan musa)
Cakka Buka Pelatihan Petugas Survei Sosial Ekonomi Nasional 2018
×

