GOWA, BKM — Meski tanpa tangan dan kaki, Takdir, anak sulung dari tiga bersaudara buah hati perempuan bernama Dg Ngengo (55) ini tetap bersyukur kepada sang pencipta.
Memang sudah takdirnya, pemuda yang lahir 22 tahun silam, lahir dari rahim ibunya tanpa sebuah kesempurnaan fisik manusia. Takdir lahor tanpa tangan dan kaki. Namun cacat fisik yang dialaminya itu tak pernah membuat Takdir berkecil hati apalagi menyesali hidupnya yang malang, beda dengan fisik dua adiknya.
Takdir tak mau menyesali kehidupannya sebagai serang yang cacat. Justru ketiadaan ayahnya yang sudah meninggal sejak 10 tahun lalu membuat Takdir semakin ulet membantu ibunya meski dalam keterbatasan yang cukup berat.
Tanpa tangan dan kaki. Dua bagian tubuh ini merupakan hal vital bagi kelengkapan jasad seorang manusia. Namun ketiadaan tangan dan kaki ini justru tak menjadi penghalang bagi Takdir untuk menyalurkan skillnya. Takdir bisa membuat kerajinan berbahan bambu tanpa bantuan tangan dan kaki.
Keahlian yang dimiliki Takdir inilah membuat trenyuh Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga. Saat menyambangi Takdir di rumahnya di Desa Tabbingjai, Kecamatan Tombolopao, Sabtu (10/2/2018), potret kehidupan serba memiriskan hati itu tergambar nyata pada diri Takdir dan itu dilihat langsung Shinto yang datang bersama istrinya, Oni Silitongi dalam suatu kesempatan kunjungan kerja di Polsek Tombolopao.
Didampingi Bhabinkamtibmas Desa Tabbingjai, Kapolres Gowa dan Ketua Bhayangkari Gowa ini melihat langsung aktivitas Takdir. Takdir tak menjadi sebuah beban bagi Dg Ngengo yang merawat Takdir dan dua anaknya yang lain tanpa suami lagi.
Namun kehadiran Takdir yang serba kekurangan itu menjadi motivasi tersendiri bagi Dg Ngengo untuk tetap optimis menjalani kehidupan keluarganya yang serba apa adanya tersebut.
Saat masuk di rumah Takdir, Kapolres Shinto terpana melihat Takdir yang duduk tenang dan ada sebuah sangkar burung terbuat dari bambu dan itu hasil bikinan Takdir di bawah tempat duduknya.
“Selamat sore Takdir, bagaimana kabarnya ?” sapa Shinto Silitonga yang dibalas senyum ceria Takdir.
Melihat sangkar berbentuk kotak itu, kapolres dan rombongan terheran-heran. “Saya jelas heran kalau itu hasil tangan Takdir,” kata Shinto terkagum-kagum.
Takdir pun lalu mempraktekkan cara membuat kurungan bambu tersebut. Takdir terampil menggunakan gergaji dan bahkan parang dengan segala kekuranganya.
“Luar biasa, Takdir bisa membelah bambu, menggergaji dan meruncingkan ujung bambu dengan parang. Saya kagum benar,” kata kapolres.
Lebih kagum lagi karena Takdir bisa baca dan menulis. Terbukti, Takdir langsung mengeja huruf per huruf papan nama kapolres bahkan langsung menuliskan nama itu di atas kertas menggunakan pensil yang diletakkan di mulutnya.
“Saya kagum akan motivasi yang dimiliki Takdor. Semoga anak-anak disabilitas lainnya pun bisa sesemangat Takdir dan bisa berbuat banyak,” kata Shinto.
Dalam kesempatan kunjungan itu, Shinto dan istri menyerahkan bantuan tali asih kepada Dg Ngengo dan Takdir. Bahkan Shinto minta Takdir mendoakan para polisi di Polres Gowa maupun Polsek agar bisa bekerja lebih baik dalam memberikan pelayanan, perlindungan dan keamanan bagi masyarakat Gowa.
“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan pak kapolres di gubuk kami ini, semoga semuanya selalu sehat dan dapat limpahan rejeki, amin,” kata Dg Ngengo, ibunda Takdir. (saribulan)
Kapolres Gowa Kagum Ketegaran Takdir
×

