MAROS, BKM — Yuliana (10), bersama puluhan teman sekolahnya, terlihat gembira, saat puluhan prajurit dari Kostrad 431 Kariango Maros bersama Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip) mengunjungi sekolah yang berada di Dusun Bara, Desa Bontosomba, Kecamatan Tompobulu Maros, Sulawesi Selatan.
Sekolah yang merupakan kelas jauh milik yayasan Pondok Pesantren Almuhajirin DDI Sakeang ini, kondisinya sangat meprihatinkan.
Selain bangunannya yang tidak layak, gurunya pun hanya satu orang, sehingga aktivitas belajar tergantung kedatangan guru.
“Kami sangat senang bisa didatangi oleh bapak-bapak Tentara yang ramah-ramah itu. Mereka sudah jauh-jauh ke sini untuk mengajar di sekolah kami yang terpencil,” kata Yuliana, Minggu (4/3/2018).
Tak hanya bangunan fisik sekolah dan guru, akses menuju dusun ini begitu sulit karena hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama empat jam menenelusuri hutan dan juga sungai.
Hal inilah yang membuat guru di sekolah ini tidak bisa setiap saat datang untuk mengajar.
“Luar biasa medannya, kami saja sebagai prajurit yang terbiasa dengan medan begini masih kualahan, apalagi orang biasa. Kondisi mereka sangat miris, padahal minat belajar mereka begitu besar untuk belajar,” ungkap Pasi Intel Yonif Para Raider 431 Konstrad, Lettu Inf Purbo Sasongko.
Sekolah yang kondisinya memprihatinkan ini, memang menjadi salah satu program pendampingan prajurit Kostrad sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan.
Tak hanya datang menyalurkan bantuan dan juga mengajar, mereka juga siap membantu tenaga dalam pembangunan fisik sekolah.
“Ya kita memang punya program seperti ini. Kedepannya akan lebih berkesinambungan. Kami merasakan sendiri seperti apa semangat mereka untuk maju. Bahkan mereka begitu sedih saat kami pamit,” tandasnya.
Di dusun terpencil ini, didiami 170 Kepala Keluarga. Mereka rata-rata bekerja sebagai petani dan juga berkebun.
Hanya saja, lokasi yang mereka diami merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki aturan tersendiri. Termasuk membangun sekolah, haruslah seizin pihak kehutanan.
Pembangunan sekolah di wilayah ini memang terkendala dengan adanya status kawasan hutan lindung.
Namun, di dalam aturannya, kawasan hutan produksi memang bisa dimanfaatkan oleh warga termasuk mendirikan fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah.
“Sengaja kita datangkan pihak Dinas Kehutanan ke sini untuk melihat langsung. Hasilnya, kita sudah buat ploting dan titik koordinat untuk membangun sekolah yang lebih nyaman buat mereka,” terang Koordinator Kerlip Maros, Bagus Dibyo Sumantri. (Askari)

