MAMASA, BKM — Puluhan warga yang datang dari pelosok Kabupaten Mamasa, mengeluhkan pelayanan perekaman Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) di kantor Kecamatan Mamasa. Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Mamasa, diketahui hanya ada satu alat perekam KTP-el yang saat ini masih berfungsi, yaitu di Kecamatan Mamasa.
Hasil pemantauan Berita Kota Makassar di kantor Kecamatan Mamasa, terlihat ramai dikunjungi warga. Layaknya sebuah taman wisata. Warga yang datang tidak sekadar datang berkunjung seperti liburan hari raya. Melainkan mereka berbondong-bondong bahkan rela antrean hingga berjam-jam hanya untuk melakukan perekaman KTP-el.
Tapi sangat disayangkan, meski warga sudah berjam-jam bahkan berhari-hari menunggu untuk dilayani, namun pelayanan yang diharapkan masyarakat, tak juga dirasakan.
Di Kecamatan Mamasa salah satunya, sejak dua hari terakhir atau pada Kamis-Jumat, warga yang datang dari berbagai kecamatan untuk melakukan perekaman KTP-el merasa kurang nyaman.
Bahkan, sebagian besar merasa kecewa. Lantaran salah seorang operator perekaman KTP-el bernama Thomas, tidak masuk kerja pada saat jadjual tugasnya. Masdar, warga dari Kecamatan Mambi, mengaku, sejak pukul 8.00 dirinya berada di kantor Kecamatan Mamasa untuk melakukan perekaman. Namun hingga pukul 11.20 operator KTP-el belum juga masuk kantor
”Dari jam berapa saya ada di sini, tapi operatornya belum datang-datang. Saya telepon pertama, dia bilang saya masih di kantor kependudukan. Saya telepon lagi berapa kali tapi tidak diangkat-angkat teleponnya,” ungkap Masdar, Jumat (2/3).
Hal senada diungkapkan Seniwaty, salah seorang staf kantor Kecamatan Mamasa. Dikatakan, sejak Kamis Thomas tidak masuk kerja. Sementara hari Kamis dan Jumat adalah jadual tugas bagi Thomas.
”Memang Thomas itu malas. Beda dengan operator lainnya. Padahal kan digaji dari Dinas Kependudukan,” terangnya.
Menanggapi itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Mamasa kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Mamas, Sandri, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, juga mengaku tidak masuk kantor lantaran sakit.
Diakui, Thomas sudah sering melakukan hal yang sama. Dimana, pada saat jam kerja dia tidak masuk kantor.
”Saya rencana akan adakan pertemuan dengan dia kalau saya sembuh nanti,” jelas Sandri dari balik telepon.
Ketika dijelaskan kalau persoalan ini menyangkut pelayanan kepada masyarakat, apa tidak sebaikanya jika terjadi seperti ini operator yang malas diganti saja. Tapi dengan nada tinggi Sandri lalu memotong pembicaraan.
”Nanti saya hubungi dulu temannya pak. Tidak usah bapak banyak bicara. Saya juga sakit ini,” kata Sandri sembari mematikan teleponnya.
Selang beberapa menit, Sandri kembali menelepon. Dengan nada yang sama, dia mengatakan kalau operator sudah standby di kantor sejak pagi. ”Tidak usah bapak terlalu melebih-lebihkan. Jangan mengada-ada. Kalau anggota saya sudah ada di kantor. Karena kita juga ini manusia biasa. Bagaimana kalau ada apa-apa di jalan,” kata Sandri lagi.
Sementara saat wartawan bertandang ke kantor Kecamatan Mamasa, dari pagi hingga pukul 11.20 Wita, tidak seorang pun operator yang hadir di kantor. (dar/mir/c)
Warga Mengantre di Kecamatan Mamasa
×

