DI ZAMAN modern ini, kalangan generasi muda tidak lagi banyak menegok sejarah masa lalu. Akhirnya, museum kini menjadi saksi bisu, sepi tanpa lagi ada yang meliriknya. Hanya ada satu orang yang tetap tegar menjaga saksi sejarah yakni Wawan Abdullah.
Laporan: ARIF AL QADRY
Ketika zaman modern itu datang, ketika itu pula Wawan merasa terpanggil untuk merawat Museum Kota yang berada di samping Kantor Balai Kota Makassar. Dua tahun mungkin bukan waktu singkat bagi Wawan berada di museum tersebut.
Setiap hari ia berkeliling sekitar gedung untuk membersihkan sampah. Sesekali ia menegok kiri dan kanan sambil melihat barangkali masih ada yang kotor berdebu.
Pria kelahiran Ujung Panjang, 4 Agustus 1972 bekerja sebagai tukang bersih museum.
Menyapu dan mengumpulkan seluruh sampah dedaunan yang berserakan di halaman museum menjadi pekerjaan rutin setiap hari dilakukan dimulai dari pukul 06:00 pagisampai dengan pukul 12:00 siang.
Di pagi buta usai meneguk kopi hitam buatan istrinya, Wawan mulai bergegas beranjak meninggalkan rumahnya di Jalan DR SAM Ratulangi mengendarai sepeda motor tuanya ke Jalan Balai Kota untuk memulai aktivitasnya.
Di museum, Wawan bekerja seorang diri, agar tanggung jawabnya dapat selesai sebelum museum ramai dikunjungi pengunjung dan pegawai, Wawan harus lebih cepat turun menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah yang ada untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran besar.
Halaman depan museum menjadi tempat pertama Wawan memainkan sapunya dan sekop sampah.
Setelah halaman depan museum telah bersih, bapak tiga orang anak lanjut membersihkan bagian samping dan belakang halaman di museum. Tidak ada peralatan khusus digunakan, cukup sapu lidi, sekop sampah dan kantong plastik sudah dapat menunjang aktivitasnya.
“Istirahat kalau sudah jam 12:30 sekalian siap-siap pulang ke rumah. Tapi kalau tiba-tiba dapat panggilan atau tugas tambahan mau tidak mau harus dikerjakan. Kalau tugasku area halaman saja,” kata Wawan kepada penulis yang ditemui di halaman Museum Kota Makassar.
Membersihkan halaman museum dilakukannya setiap Senin-Jumat sesuai jadwal masuk kantor pegawai. Wawan juga termasuk sebagai tenaga sukarela di Dinas Kebuyadaan Makassar dengan upah setiap bulan hanya sebesar Rp500 ribu.
Besaran upah yang diterima Wawan setiap bulan dirasa pedih untuk menutupi biaya hidup bersama keluarganya. Pertengahan bulan ketika beras sudah habis, ditambah lagi tagihan listrik dan airnya masuk, Wawan terpaksa harus berkeliling mencari pinjaman uang ke tetangga dan keluarganya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dan keperluan. Sementara gaji setiap bulannya sering dibayarkan setiap per tiga bulan.
“Seperti sekarang ini sudah banyak mi pinjamanku, gaji ku sudah tiga bulan belum dibayarkan. Kalau tidak cari pinjaman, saya dan keluargaku tidak makan, kasihkan anak-anakku. Saya harapkan selain gaji dibayar tepat, berikan juga gaji yang layak apalagi biaya hidup di Makassar sudah mahal,” katanya. (arf)

