MAKASSAR, BKM– Masyarakat saat ini dihadapkan pada pilihan memilih calon gubernur berdasarkan jualannya atau keberhasilannya. Peran sosial media dalam penyebaran berita demi pencitraan kandidat calon gubernur Sulsel pun menjadi bukti buruknya sistem demokrasi.
Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) Sulsel melihat hal itu sebagai persoalan yang harus menjadi perhatian bersama. Karena pemimpin yang lahir dengan pencitraan hanya akan membawa kesenjangan yang lebih besar lagi di masyarakat.
Lewat dialog dengan tema ‘Menggagas Pilgub Sulsel Yang Berkualitas Tanpa Over Pencitraan dan Kebohongan Publik’ diharapkan mampu memberikan pencerahan ke publik. Bagaimana memilih pemimpin yang memang berintegritas dan peduli dengan kepentingan masyarakat.
Akademisi Andi Hartawan mengatakan Sulsel yang terkenal dengan ada istiadatnya terutama persoalan harga diri harusnya menjadi nilai yang tetap dijunjung tinggi. Memilih pemimpin harus berdasarkan pengalaman serta kualitasnya, karena masa depan masyarakat ada ditangan para pemimpin yang amanah nantinya. “Secara substansial, ketika kita berbicara kualitas sudah barang tentu over pencitraan tidak akan ada lagi. Tapi pencitraan dengan tanpa bukti adalah pembohongan publik, hal ini kemudian marak terjadi di Pilgub Sulsel. Hal itu seharusnya bukan menjadi bahan jualan yang harus dipertontonkan ke publik,” terangnya.
Ia mencontohkan, suatu daerah dengan daerah lainnya di Sulsel tentu memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Masalah produktifitas dan perkembangan daerah menjadi jualan yang sama sekali belum tentu benar adanya. Apalagi kalau sampai masyarakat harus tertipu daya oleh hal-hal seperti itu.
Aktifis HAM Sulsel, Dhedy Jalarambang mengatakan, proses demokrasi adalah sistem yang memiliki peran dan tujuan suci. Namun, dibalik hal itu ada oknum yang memang ingin merusak dan merampas hak-hak masyarakat. “Hanya sebagian calon gubernur Sulsel yang memang menunjukkan kerja-kerja real demi masyarakat. Sisanya, hanya sekadar pencitraan dengan memperlihatkan pembangunan-pembangunan yang ia lakukan dan nyatanya tidak terbukti,”kata dia.(ita/rif)
Penyebaran Paslon di Sosial Media Bukti Buruk Demokrasi
×

