MAKASSAR, BKM — Film yang mengangkat kultur budaya di Sulsel akan kembali tayang di layar lebar Indonesia.
Kali ini mengangkat tentang mitos yang beredar di kalangan masyarakat Jeneponto, mitos yang berada di bukit Toeng. Judul filmnya adalah “de Toeng”.
Penulis cerita sekaligus Sutradara film, Bayu Pamungkas, saat dikonfirmasi pada Kamis (3/5/2018), mengatakan jika film ini baru saja selesai shooting di Jeneponto. Ditargetkan akan tayang antara pada September atau November tahun ini.
Mengangkat genre thriller horor, sutradara asal Jakarta ini mengatakan jika ia menggunakan dua artis asal ibu kota, yaitu Kartika Waode dan Sean Hasyim. Beberapa aktor yang memainkan film juga berasal dari Makassar dan dari Jeneponto.
Film ini sendiri akan mengangkat tentang mitos yang ada di Bukit Toeng. Dikisahkan, saat malam-malam tertentu, di bukit tersebut suka terdengar ada seorang nenek yang sedang meroyong.
Dengan ayunan dan selendangnya, nenek tak kasat mata itu kerap menampakkan dirinya ke beberapa warga yang melintas di bukit itu saat malam hari.
Hal ini ternyata bukan isapan jempol. Beberapa crew film yang sedang melakukan syuting pun dikatakan mendapat beberapa kejadian mistis.
“Banyak cerita selama disana, beberapa crew pun mengatakan ada yang melihat nenek royong itu secara tak sengaja. Tampaknya sangat mirip dengan yang kami gambarkan di film, selendangnya sama. Cuma yang kami lihat, itu selandangnya panjang dari atas sampai ke bawah, bikin merinding pastinya,” kata Bayu.
“Ada juga crew yang melihat dengan jelas ayunan itu, sampai-sampai ia putar mobilnya, padahal ayunan itu tak ada. Ada lagi yang melihat beberapa anak lagi main petak umpet. Bayangkan saja, masa ada anak yang main petak umpet malam-malam, baru ini lokasinya di bukit yang tak ada orang lain selain mereka,” tambahnya.
Bayu mengatakan jika pihaknya tetap melanjutkan proyek ini apapun yang terjadi. Karena sebelumnya, ia sudah melakukan ritual adat terlebih dahulu sebelum menuju ke bukit itu.
Cerita de Toeng dalam film ini sendiri ditulis oleh Bayu. Ia mengetahui mitos ini secara tak sengaja. Setahun lalu, dirinya diajak oleh teman untuk hunting lokasi di Jeneponto. Hingga akhirnya beberapa masyarakat menceritaan mitos tersebut, dan akhirnya ia pun terinspirasi dan tertarik membuatnya dalam sebuah film. (nugroho)

