PAREPARE,BKM — Pasca putusan diskualifikasi Taufan Pawe-Pangerang Rahim (TP) pada Pilwalkot Parepare, ragam opini mulai berkembang dikalangan warga. Segelintir yang muncul lewat media, adalah diskualifikasi itu karena penzaliman.
Terkait hal tersebut, Ketua Tim Faisal Andi Sapada-Asriady Samad (FAS) Yasser Latief menegaskan, kontestasi Pilwalkot merupakan event politik resmi yang punya seperangkat aturan. Sehingga siapa pun yang melanggar aturan, mesti siap menghadapi konsekuensi hukum.
“Sederhananya, panjat pinang saja ada aturannya apalagi event akbar sekelas Pilkada. Ini yang mesti dipahami. Penyelenggara menilai TP melanggar aturan, tentu mereka paham konsekuensinya,” tegas YL yang juga mantan Ketua KPU itu.
Dia menyindir, apapun alasan TP melakukan pelanggaran yang dilaporkan masyarakat -apakah karena tidak paham aturan atau memang sengaja melabrak aturan- menjadi sangat naif jika kesalahannya dilemparkan ke pihak FAS.
“Situ yang melanggar aturan, kok kita yang disebut zalim? Jadinya lucu dan menggemaskan. Sampai ada statement ‘jihad melawan kezaliman’. FAS yang zalim? ataukah KPU-Panwaslu? Atau memang mereka yang terbukti melanggar aturan? Warga tentu cerdas melihat fakta dan rekam jejak,” beber Yasser.
Ia juga mengingatkan, yang paling mungkin melakukan penzaliman adalah yang sedang berkuasa, memiliki kekuasaan atau menguasai perangkat kekuasaan. “Sehingga semakin naif jika FAS yang hampir 5 tahun tak dilibatkan dalam pemerintahan dianggap menzalimi,” kritiknya.
Dia berharap semua pihak arif dan bijaksana dalam melihat kasus tersebut. Apalagi kinerja KPU, Panwaslu, dan aparat penegak hukum hingga kini masih dalam koridor kondusif dan teguh memegang aturan. “Sekali lagi, jika kita semua patuh pada aturan main, maka semua akan baik saja. Pilkada ini pesta rakyat, hadapi dengan senang, tenang dan damai,” tandasnya.(smr)

