pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Begini Cara Warga Malino Melestarikan Spathodea

GOWA, BKM — Pohon Spathodea adalah sejenis pohon yang populasinya termasuk langka. Pohon jenis ini usianya memang cukup tua. Di Kabupaten Gowa saja, pohon Spathodea ini hanya tumbuh di Malino, Kecamatan Tinggimoncong.

Dan menurut sejarahnya pohon Spathodea berkembang biak di Malino hingga sekarang sejak dibawa orang Belanda tahun 1930 silam dan ditanam di Malino. Hingga kini hampir seluruh pelosok wilayah Malino ada pohon Spathodea yang tumbuh. Tumbuhnya pun alami berkat bantuan alam dan sampai sekaranh belum pernah ada satupun warga yang membudidayakan Spathodea ini.

Karena langkanya sehingga masyarakat di kota Malino berupaya melestarikan pohon ini dengan cara berpesan ke masyarakat agar tidak menebangi pohon Spathodea yang memiliki kekokohan batang yang kuat ini.

Selain krisan, ikon kota wisata Malino adalah bunga Spathodea. Warnanya orange cerah dan berbunga di segala musim di kota Malino. Spathodea pun menjadi kebangggaan warga Malino.

Karena indahnya Spathodea, nama bunga cantik inipun menjadi tema pagelaran tarian kolosal 2.500 pelajar saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2018 di kota Malino, Kecamatan Tinggimoncong.

Ribuan penari berpakaian hitam dipadu selendang lebar berwarna orange yang menggambarkan bunga Spathodea itu berlenggak energik di lapangan Prayudha Malino.

Spathodea dalam tari ini, dimeriahkan para pelajar yang tergabung dalam Sanggar Seni Bawakaraeng yang diasuh oleh Qashidah Ardan.

” Kami sengaja tampilkan Spathodea dalam tarian ini sebagai upaya melestarikan pohon yang memiliki bunga yang indah ini. Sebenarnya bunga ini adalah ikon kita patutlah kita budayakan,” kata Amran Azis selaku pemilik ide dan naskah cerita dalam raian kolosal tersebut.

Amran Azis yang juga Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Tinggimoncong ini menguraikan bahwa tarian Sapthodea ini dibackup penata gerak dan kostum, Abubakar Aby dibantu Marlina Saleng, Nurhayati, Anggreni Ardan.

Menurut Amran Azis, tarian ini terinspirasi dari pohon Spathodea. Bunga ini memang indah, kata Amran Azis.

“Warna yang sangat mencolok berpadu dengan warna hijau alami. Tarian ini sarat dengan pesan moral. Spathodea perlu dilestarikan dan dijaga. Masih ada segelintir orang yang tidak peduli bahkan menebangnya padahal Spathodea adalah bahagian dari urat nadi kehidupan kota dingin Malino. Pohon ini ditanam tahun 1930 dan bibitnya dibawa oleh orang-orang Belanda yang menetap di Malino kala itu. Karena sifatnya langka maka perlu dilindungi,” ungkap Amran Azis. (saribulan)



×


Begini Cara Warga Malino Melestarikan Spathodea

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar