SATU dekade silam, pegunungan di Allakuang atau Bulu Allakuang masih nampak megah dan tergerus rapi. Kita masih bisa melihat tingginya yang menjulang menandakan Bulu tersebut Ikon kebanggaan Masyarakat Sidrap. Namun, kini nasibnya diujung tanduk.
Tidak memakan waktu lama generasinya berikutnya tidak akan pernah mennikmati dan melihat megahnya Bulu Allakuang, dan hanya bisa mendengar namanya dikenang.
Satu hal jika tidak menjadi perhatian serius Pemerintah terkait, bisa jadi Bulu Allakuang akan punah dan hanya tinggal kenangan. Pasalnya, maraknya pengerukan batu Bulu (Batu gunung,red) di Desa Allakuang kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap tersebut kian memprihatinkan.
Mobil truk di lokasi gunung Allakuang silih berganti mengangkut material tambang. Pemandangan ini, hampir setiap hari ditemui ketika berada di lokasi gunung kebanggaan masyarakat Sidrap ini. Mencermati hal itu, dipastikan terjadinya penambangan yang tak terkendali itu, bisa berdampak pada sistem kelangsungan hidup masyarakat, terlebih Bulu Allakuang, sebutan bagi masyarakat setempat, merupakan salah satu cagar budaya yang menjadi Ikon Sidrap yang harus dilindungi dari kepunahannya.
Disatu sisi, masyarakat setempat menjadikan mata pencaharaian utamanya dari sumber gunung tersebut dengan hasil kerajinan Batu Nisan dan Batu Cobek (Ulekan,red). Bila dicermati, kondisi Bulu Allakuang saat ini bak Buah ‘Simalakama’ tidak dituruti Ayah, mati mama dan sebaliknya.
Sebab, jika proses penambangan liar ini ditutup permanen oleh pemerintah, jelas sangat berdampak pada mata pencaharian 90 persen masyarakat Allakuang mengais rski dari pengerukan batu tersebut. Dilain pihak, jika terus menerus dibiarkan itu terjadi, penambangan secara tidak terkendali akan berdampak buruk pada lingkungan, terutama kondisi Bulu Allakuang saat ini sangat memprihatinkan yang terus menyusut akibat pengerukan.
“Iya sih pak, kami juga prihatin akan habis. Tapi maumi diapa pak, itu juga mata pencaharian kami seluruh masyarakat disini sebagai pengrajin batu nisan dan batu cobek. Sekarang sangat miris pak kondisinya sudah menyusut. Tapi ini tempat kami semua warga Allakuang cari sesuap nasi pak,”ungkap salah tokkoh masyarakat Allakuang, Wa Bahri yang ditemui dikediamannya, Kamis (28/06), kemarin.
Kepada penulis, Wa’Bahri berharap pemerintah bisa mencarikan solusi terbaik untuk sistem penambangan agar bisa saling menguntungkan dan tidak merugikan masyarakat. “Ini yang kami sesali, kenapa baru sekarang mau diributi ketika kondisinya sudah memprihatinkan. Kenapa tidak dari dulu ada regulasi aturan dibuat. Jujur pak, kami prihatin dan tidak memungkiri kalau itu sangat berdampak amsa depan anak cucu kami. Kami masyarakat disini berharap pemerintah memberikan solusi yang tidak merugikan masyarakat,”ucap Wa’Bahri.
Sementara salah satu pemerhati lingkungan Sidrap Ahmad Yusuf berpendapat sama jika perlunya pihak terkait duduk bersama membahasa kelangsungan kondisi Bulu Allakuang tersebut.
“Disatu sisi memang memprihatinkan karena 10 tahun yang akan datang itu Bulu Allakuang tinggal nama kelak, dilain pihak itu merupakan mata pencaharian utama 90 persen penduduk Allakuang sebagai pengrajin Batu Nisan dan Cobek. Seyogyanya, pemerintah duduk bersama mencarikan solusi agar penambangan bisa terkendali,”ungkap Ahmad dihubungi terpisah via selulernya,Kamis kemarin.
Menurutnya, pemerintah Daerah maupun Provinsi harus turun tangan membuat regulasi aturan untuk kepentingan masyarakat dan kelangsungan Bulu Allakuang tersebut. “Minimal solusinya, pengerukan hanya khusus untuk pembuatan batu nisan dan cobek, Bukan semua materil batu Allakuang dititik fokuskan untuk kepentingan bahan bangunan, karena paling banyak meresap materil gunung itu di sektor materil bangunan,”lontarnya. (*)

