GOWA, BKM — Efek event Beautiful Malino II yang digelar empat hari, 13-15 Juli 2018 sangat dirasakan masyarakat Malino dan sekitarnya khususnya yang berjualan di depan hutan pinus Malino.
Di kawasan hutan pinus Malino terdata sekira 50-an kios pedagang makanan dan minuman, termasuk pedagang kecil yang ada di kawasan pasar Sentral Malino.
Rata-rata pendapatan kios-kios depan pinus secara rinci kios-kios kecil pendapatannya per hari mencapai Rp 2 juta, kios besar meraup untung Rp 3 juta hingga Rp 4 jutaan per hari.
Padahal di hari-hari biasa hanya mengantongi paling tinggi 500 ribu itupun hanya pada hari-hari tertentu (libur) weekend.
“Yang dipastikan keuntungan para pedagang di Malino hampir rata-rata sampai 70 persen,” kata Camat Tinggimoncong, Andry Mauritz disela aksi bersih-bersih warga Malino di sekitaran hutan pinus dan kawasan lainnya pasca beberapa hari event.
Disebutkan Andry, intinya pendapatan masyarakat termasuk pula untuk penginapan-penginapan (homestay) memberikan nilai tersendiri bagi masyarakat Malino.
“Mereka (pedagang, pemilik homestay) sangat berterimakasih kepada Pak Bupati dan Pemkab Gowa karena event ini mereka mendapatkan pemasukan tinggi,” tambah camat.
Dipastikan selama rangkaian event Beautiful Malino II kurang lebih nilai transaksi di Malino menembus angka Rp 15 miliar.
“Jika kemarin EO menghitung jumlah pengunjung 60 ribu orang lebih dengan estimasi pengeluaran per pengunjung 100 ribu rupiah mencapai Rp 6 miliar, maka itu hanya perhitungan kasar angka standar 100 ribu belanja makan minum per orang. Nah mereka kan tidak cuma satu kali makan saja dan mereka juga tidak cuma nginap sehari tapi hingga dua malam tiga hari maka otomatis mereka mengeluarkan uang di atas 100 ribu per orang. Lumayan tinggilah pendapatan masyarakat Malino selama rangkaian event berlangsung,” jelas camat.
Tak dapat dipungkiri memang jika nilai transaksi di Malino kemarin mencapai Rp 15 miliar. Seperti dikatakan Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Disperdastri) Gowa, Andi Sura Suaib.
Andi Sura mengatakan, angka ini jika dihitung dari semua transaksi di semua sektor sejak masa persiapan event, 11-15 Juli.
“Berdasarkan pemantauan dan bincang-bincang kami dengan pedagang. Khususnya di pasar Malino memang mayoritas mengatakan, ada peningkatan penjualan sampai lima kali lipat dibanding sebelumnya,” kata Andi Sura saat dikonfirmasi, Rabu (18/7/2018).
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Gowa memang sudah memprediski uang berputar bakal mencapai angka Rp15 miliar.
“Perputaran uang ini ditaksir berasal dari belanja peserta untuk keperluan akomodasi dan transportasi selama acara berlangsung,” tambahnya.
Salah seorang pedagang Tengteng, cemilan khas Malino, Dg Basma mengaku turut menikmati keuntungan lebih yang tidak biasanya dia rasakan.
Dg Basma adalah pedagang tengteng dan dodol Malino sekaligus barang jualannya itu diproduksinya sendiri.
“Syukur alhamdulillah bu, saya merasa tahun ini mendapatkan rejeki besar dan tidak biasanya saya rasakan. Di luar acara beautiful malino ini saya hanya kadang dapat pembelian kisaran Rp 300 sehari tapi sejak acara besar ini ada dan Malino dikunjungi banyak orang saya menikmati sekali nikmatnya jualan. Untuk enam hari saat Malino sudah dibanjiri pengunjung saya mendapatkan hasil penjualan sampai tiga juta kodong untuk enam hari itu. Yang paling banyak laku terjual adalah Tengteng dan Dodol saya,” kata perempuan baya yang baru dua pekan lalu kehilangan putrinya lantaran kecelakaan ini kini dia hanya hidup dengan suami dan seorang anaknya lagi.
Jajanan khas Malino seperti tengteng kacang, dodol, tengteng wijen, kripik ubi jalar, kripik pisang dan kripik talas menjadi ikon paling selain buah markisa, alpukat, terong belanda dan sayur mayur yang segar. (saribulan)

