BULUKUMBA, BKM — Masyarakat Dusun Tampalisu, Desa Bontominasa, Kecamatan Bulukumpa dihantui dengan perasaan was-was. Betapa tidak, setiap harinya warga di wilayah tersebut harus melalui jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan kayu untuk menyeberangi sungai.
Warga setempat Nasrul berkisah, kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Setiap harinya warga, baik dari Desa Bontominasa dan Desa Jojolo terpaksa harus melintasi jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu itu.
Dia mengaku setiap hari warga dibayangi rasa cemas sewaktu-waktu jembatan ambruk. Apalagi jembatan sepanjang 25 meter tersebut terbentang di atas sungai dengan arus air yang cukup deras.
“Ini salah satu akses utama dua desa, hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kalau anak sekolah dekat sekali kalau lewat di sini. Makanya kalau pagi, warga dibantu anggota Babinsa (TNI) membantu menyebrangkan anak-anak. Yah, pasti dihantui rasa cemas lah pak. Apalagi kalau musim hujan begini, kita harus ekstra hati-hati kalau menyeberang,” cerita Nasrul.
Babinsa Koramil 1411-02 Tanete, Serka Andi Thalib membenarkan hal tersebut. anggota TNI yang bertugas di Desa Bontominasa ini menceritakan, kondisi tersebut sudah berlangsung begitu lama.
Setiap harinya, warga terpaksa harus melewati jembatan sebagai salah satu jalur utama untuk keluar dan masuk desa. Sayangnya, hingga kini jembatan permanen tak kunjung juga di buat.
“Panjangnya sekitar 20 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter. Kalau Air sungai dalamnya sampai dua meter Apalagi kalau musim hujan, kondisi jembatan akan berbahaya. Yah, kita berharap ada perhatian untuk warga di sini. Jadi anak-anak biasa kita semberangkan,” jelasnya.
Kades Bontominasa Andi Sukmawati membenarkan kondisi tersebut. Diakui kondisi sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Meski ada akses lain, namun jembatan tersebut merupakan akses utama bagi kedua desa.
“Kita sudah sering masukkan di musrenbang. Yah, kita berharap segera direalisasikan. Karena kalau memakai ADD kemampuan anggaran desa tidak bisa karena itu anggarannya miliaran. Jadi kalau rusak, yah warga gotong royong memperbaiki. Ada jalur lain tapi jauh memutar,” terangnya. (man)

