PANGKEP, BKM– Budidaya lobster dengan sistem keramba kini menjadi sumber dollar bagi warga Pulau Balang Lompo di Kecamatan Liukang Tupabbiring. Potensi ekspor lobster sangat menjanjikan. Hanya dalam tempo delapan bulan dilakukan pemeliharaan, hasilnya bisa mencapai 35 kilogram dan harga lobster hidup Rp 600 ribu perkilogram. Seperti yang dialami salah seorang warga Pulau Balang Lompo bernama DG Saidu berhasil meraup untung lobster sekitar Rp 21 juta setelah melakukan panen.
Bupati Pangkep, H. Syamsuddin A.Hamid menghadiri lpanen lobster di keramba warga yang ada di Pulau Balang Lompo, Minggu (16/9). Udang jenis lobster bernilai ekspor ini, banyak dibudidayakan warga Pulau tersebut , karena hasilnya cukup menggiurkan.
Salah seorang warga Pulau Balang Lompo DG. Saidu, Kini tersenyum bangga dalam panen lobster ini. Bayangan puluhan juta rupiah sudah menggelayut dipikirannya. Keramba miliknya yang berukuran 6×6 meter sudah memasuki masa panen.
Perasaan DG Saidu semakin berlipat karena panen lobsternya dihadiri langsung Bupati Pangkep Syamsuddin, bersama Ketua TP PKK, Ny.Hj. Rismayani, dan kadis Perikanan Pemrov Sulsel, Sulkaf Latif dan Kadis Perikanan Pangkep Hj Andi Farida untuk melakukan panen lobster.
Lobster DG Saidu itu dipelihara 8 bulan lalu. Hasilnya, sekitar 35 kg lobster hidup dengan harga kisaran Rp 600 ribu lebih per kilogramnya atau sekitar Rp 21 juta. Apa yang dicapai nelayan lobster, kata Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid patut didukung. Terutama dalam pemeliharaan dan pemasaran. Warga lainnya juga harus diberikan motivasi untuk melakukan hal serupa.
“Peluang lobster ini sangat menggiurkan. Pemkab akan bantu tahun depan untuk nelayan lobster,” kata Syamsuddin di hadapan para nelayan.
Kadis Perikanan Pemprov Sulsel, Sulkaf Latif, mengharapkan Pangkep dapat mempertahankan statusnya sebagai daerah baru penghasil lobster di Sulsel, selain Bantaeng dan Takalar. Namun, ia mengajak para warga di Pulau Balangan Lompo kecamatan Liukang Tupabiirng untuk memanfaatkan laut bukan hanya dari lobster, namun budidaya lainnya seperti ikan dan mutiara.
Nelayan budidaya lobster di pulau Balang Lompo sekitar 110 orang, dengan jumlah bibit mencapai 100-200 ekor per keramba. Umumnya mereka panen pada bulan September ini namun ada juga pada Desember dan Januari. Umumnya hasil lobster mereka dijual ke Jakarta untuk bahan ekspor.
Sementara itu Kadis Perikanan Pangkep, Ir.Hj.A.Farida, mengatakan, selain melakukan panen lobster. Bupati melakukan restoking atau melepas kembali anak lobster yang masih kecil-kecil ke alam laut bebas. (udi)

