MAKASSAR, BKM — Muqaddimah penting terutama untuk hal-hal bermakna dan memberi makna.
Buku, misalnya. Sebelum masuki isinya yang bisa sampai ratusan halaman, ada muqaddimah atau pendahuluan.
Muqaddimah menjelaskan secara ringkas dan padat latar belakang, isi, dan latar depan suatu buku.
Prosesi Pemilu 2019 bermakna dan memberi makna. Bukan semata kontestasi, tapi juga edukasi dan beragam hal bermakna lainnya. Termasuk dalam masa kampanye.
“Karena itu, sebelum memulai aktivitas kampanye, prosesi 2019 kami dahului dengan sebentuk muqaddimah suci. Yaitu, tanggal 23 September saya bersama keluarga dan perwakilan TimSIP shalat subuh berjamaah di Masjid al-Markaz Makassar,” kata Iqbal Parewangi.
Kami memandang perjuangan konstitusional lewat DPD RI merupakan ikhtiar mulia untuk daerah, bangsa dan ummat. Terutama setelah hampir empat tahun ini terbukti dapat berkinerja dengan bersih dan istiqamah.
Untuk melanjutkan ikhtiar mulia itu ke periode kedua, dalam rapat malam sebelumnya saya sampaikan niat agar proses kampanye didahului dengan muqaddimah yang juga mulia.
Sesuatu yang mulia harus dari, oleh dan untuk yang mulia pula. Pilihannya, tanggal 23 September shalat subuh di Masjid al-Markaz.
“Hadir ayah dan ibu saya, Andi Parewangi dan Sitti Rafiah. Istri saya, Yusrah Takiyah Tajuddin. Adek saya Dr dr AM Luthfi Parewangi SpPD KGEH, Dr AM Alfian Parewangi, dan lainnya. Ipar-ipar saya Mujaddid, Andi Erlimsyah, Andi Muh Ilham, dan lainnya,” ucapnya.
“Saya sempat panjangkan sujud akhir dengan memanjatkan sepenggal doa yang saya ulang beberapa kali.
“Ya Allah berikan hambaMU kemudahan, kesantunan dan ketakziman dalam menjalani prosesi demokrasi 2019. Ridhai ikhtiar terbaik kami. Dan beri kami hasil yang terbaik ya Allah.”
Usai shalat subuh dan silaturahim ringan di Al-Markaz, kami menuju warkop Az-Zahrah. Barakallah, di situ kami bertemu antara lain dengan dai kondang Dr Das’ad Latif dan sejumlah jamaah dari Masjid Raya Makassar. (*)

