pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Bahasa Daerah Perlu Dilestarikan

MAKASSAR, BKM– Pentingnya melestarikan budaya bahasa daerah, menjadi topik utama dalam Forum Kongres Internasional III bahasa-bahasa daerah di Sulsel meliputi Makassar, Bugis dan Toraja.
Kongres ini juga menghadirkan berbagai pemateri yang telah banyak meneliti mengenai budaya bahasa daerah. Mereka dari peneliti Jepang, Malaysia, Australia dan USA yang telah banyak mengangkat bahasa daerah, karakter bangsa, ranah keluarga, etik dan moral dalam sastra lokal.
Kepala Balai Bahasa Sulsel, Hj Zaenab mengatakan, salah satu cara yang harus dilakukan saat ini bagaimana bahasa daerah dapat dipertahankan di tengah-tengah masyarakat, tanpa mengubah jati diri bahasa daerah yang dimiliki. Apalagi, bahasa daerah menurutnya perlu dihargai, dengan digunakan sebagai bahasa sehari-hari.
“Bahasa daerah itu harus dihargai, sebagai wujud leluhur kita. Kalau tidak digunakan bahasa daerah kita, itu bisa punah utamanya generasi milenial. Mereka harus sadar akan bahasa daerah itu, kalau generasi kita tidak menggunakan bahasa daerah itu, lama-lama bahasa daerah tinggal buku-buku, dan sejarah saja,” jelasnya disela-sela acara di Hotel Sahid Makassar, (25/9).
Lanjut Zaenab bahwa bahasa daerah saat ini harus tetap dipertahanankan, apalagi saat ini balai bahasa melakukan penelitian bahasa daerah dengan mengumpulkan buku-buku, cerita-cerita rakyat yang dibukukan sebagai bahan literasi.
“Kalau bahasa di sekolah itu kepala dinas sudah tekankan bagaimana bahasa daerah dijadikan pelajaran muatan lokal. Kalau kita mau mengenal budaya suatu daerah yang pertama kali yang harus kita tau itu bahasa daerahnya, karena bahasa itu adalah alat mengetahui kearifan lokalnya,” jelasnya.
Sementara itu, Peneliti Asal Australia, Brendon Marshall mengakui, jika saat ini pengenalan sejarah bahasa di seluruh dunia terbilang sangat terlambat dipelajari, sehingga keberadaannya hampir punah di tengah bahasa mordenisasi. Sehingga untuk membangkitkan lagi pengenalan tersebut, sangatlah wajar jika dibahasa dalam forum kongres bahasa daerah.
“Tidak ada solusi yang dapat kami berikan, kecuali kita mau terus menerus membicarakan masalah hilangnya bahasa daerah, supaya orang sadar bagaimana mereka mendukung untuk melestariakan budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti USA, Douglas Laskowske menuturkan cara melastarikan bahasa daerah, harus ditanamkan pertama kali dalam lingkungan keluarga. Bagaimana bahasa daerah harus ditanamankan orangtua kepada anaknya, agar bahasa daerah tidak punah.
“Dengan cara ini semoaga anak-anak menjadi semangat dengan bahasa daerahnya, bangga dengan bahasa daerahnya sendiri. Saya yakin dengan adanya penanaman seperti itu generasi kedepan tidak akan lupa dengan bahasa daerahnya sendiri,” tuturnya.
Begitupun yang dikatakan Peneliti asal Jepang ,Masao Yamaguchi yang telah banyak mengembangkan penelitiannya mengenai bahasa daerah bugis-makassar dan Peneliti asal Malaysia Dr Julia Lim MA, Malaysia yang memperkenalkan budaya bahasa korea selatan.
Kongres Nasional III Bahasa-Bahasa Daerah di Sulawesi Selatan resmi dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar. Kongres ini dibuka pada Senin (24/9) malam di Hotel Sahid Makassar.
Dadang mengatakan jika pihaknya hingga saat ini telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 14 bahasa daerah di Sulsel. Sehingga kongres ini sendiri pun bertujuan untuk mereaktualisasikan bahasa-bahasa daerah yang ada tersebut.
“Saat ini ada 652 bahasa daerah yang sudah berhasil kami identifikasi, di Sulsel ada 14 bahasa daerah. Sampai saat ini di sulael sendiri tidak ada bahasa daerah yang punah. Olehnya kongres ini menjadi penting dalam mereaktualisasikan bahasa-bahasa tersebut,” jelas Dadang.
Dalam kesempatan ini, Dadang menghimbau kepada pemerintah daerah Sulsel, kiranya bisa menunaikan kewajiban mereka dalam mengembangkan dan membina bahasa daerah sesuai UU Nomor 24 tahun 2009.
“Kami menghimbau kepada setiap kepala daerah, khususnya di Sulsel, agar bisa melindungi dan melestarikan bahasa daerah. Saya senang di Sulsel ini sudah ada perda mengenai muatan lokal, dan muatan lokalnya ini kan bahasa daerah. Sekarang pekerjaan rumah kita harus ada rekrutmen guru-guru bahasa daerah,” tambahnya.
Pemrakarsa Kongres Nasional Bahasa-Bahasa daerah, Andi Muallim mengatakan dasar dilakukan kongres ini karena para penutur bahasa daerah sudah mulai berkurang. Di dalam keluarga saja contohnya sudah mulai tidak dituturkan lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu di sekolah juga tidak diajarkan secara intensif. Karrna guru-guru bahasa daerah kurang. Makanya ia menghimbau jika kongres ini bisa dijadikan gerakan nasional.
“Saya berharap kongres ini bisa dijadikan gerakan nasional untuk pengadaan guru yang begitu penting. Aksaranya juga harus di modifikasi. Dikembangkan harus dilestarikan,” kata Muallim.(ita-nug/war/c)



×


Bahasa Daerah Perlu Dilestarikan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar