GOWA, BKM — Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan meminta agar Kementerian Pertanian (Kementan) RI memperhatikan penyaluran sarana produksi terutama pupuk dan benih ke daerah.
Itu karena pendistribusian pupuk dan benih selama ini tidak tepat waktu sehingga menyebabkan tertundanya masa tanam petani.
“Karena itu diharapkan perhatian Kementerian Pertanian. Di Gowa banyak bibit yang menjadi bantuan. Namun tidak bisa dipakai karena tidak cocok dengan kondisi tanah di Gowa sehingga ditolak oleh petani,” kata Adnan saat ditemui di sela acara adat Appalili atau musyawarah petani untuk menentukan jadwal tanam tahun 2018 ini, dua hari lalu.
Menurut Adnan ini menjadi pekerjaan rumah. Apalagi Gowa memiliki dataran tinggi dan dataran rendah yang spesifikasi tanamannya pun pasti berbeda diantara kedua dataran ini.
Terpisah, Kadis Pertanian Gowa Sugeng Priyatno membenarkan hal tersebut. Ditahun lalu pihaknya terpaksa menolak bantuan jagung yang diberikan Kementan karena tidak sesuai dengan kondisi alam di Kabupaten Gowa.
“Kalau tidak cocok tidak bisa juga kita gunakan,” kata Sugeng.
Meski demikian, produksi jagung Gowa masih menduduki peringkat ketiga di Sulsel. Sedang untuk produksi kacang hijau tertinggi, Ubi jalar ke dua, Padi ke lima di Sulsel. Selain itu penghasil kentang kubis cabai dan holtikuktura lainnya.
Sementara itu, Staf Perwakilan Daerah Pemasaran Petrokimia Gresik Ilham Darmawan mengatakan, terkait ketersediaan pupuk di Gowa tidak ada masalah. Apalagi bulan Agustus lalu sudah ada penambahan.
Dimana Za dialokasikan 600 ton, SP36 100 ton dan NPK 800 ton. Sementara realisasi sejauh ini untuk penyaluran ZA sebesar 77 persen, SP36 sebesar 75 persen dan NPK 74 persen.
“Secara umum di Sulsel, posisi stok pupuk aman sampai April 2019. Kita siap mendukung semua program pertanian di Kabupaten Gowa secara khusus dan Sulsel secara umum untuk menjadi lumbung pangan,” kata Ilham. (saribulan)

