pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Rivalitas Danny-Deng Ical ‘Untungkan’ Demokrat

MAKASSAR, BKM–Kontstasi pemilu legislatif (pileg) di Kota Makassar akan lebih menarik lantaran munculnya rivalitas dua tokoh sentral antara Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto dengan Wakil Wali Kota Syamsu Rizal MI.
Danny-panggilan akrab Mohammad Ramdhan akan berjuang dan memenangkan Partai Nasdem, sementara Deng Ical panggilan akrab Syamsu Rizal MI yang akan memenangkan Partai Golkar.
Apakah rivalitas Danny dengan Deng Ical akan menguntungkan Partai Golkar dan Nasdem atau bahkan bisa berbuah manis untuk Partai Demokrat.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir bahkan menilai masuknya Danny ke Nasdem tentu akan merugikan Partai Demokrat. Sebab Demokrat tidak mungkin bisa di bantu lagi secara maksimal oleh Danny.
Meski begitu, Demokrat tetaplah partai yang cukup bagus persiapannya di pileg. “Jadi Demokrat tanpa Danny tetap patut dihitung. Namun harus kerja keras. Sebab Danny pasti membantu Nasdem dan Perindo meraih suara besar dan tentu itu sedikit mengganggu Demokrat,”ujar Suwadi, Minggu (16/12).
Begitupun dengan Deng Ical akan berkerja full guna membantu Golkar, tentu sedikit kurang baik bagi Demokrat. “Deng Ical mantan petinggi Demokrat. Jadi pendukungnya yang tadinya bersama Demokrat kini ikut Deng Ical ke Golkar,”tukasnya.
Dosen politik Unibos Dr Arif wicaksono mengemukakan bahwa mengenai kompetisi merebut kursi parlemen, sebenarnya kembali lagi pada sosok individual calegnya, bukan partainya.
Menurut Arief, sebagai individu, Danny maupun Deng Ical, memiliki jaringan pemilih yang mereka andalkan. “Tapi begitu mereka berdua terekspos sebagai kader parpol, belum tentu jaringan yang sama akan tetap mendukungnya atau memilihnya. Jadi meskipun golkar dan nasdem di pileg kali ini digambarkan berbeda (karena perseteruan Danny – Ical), tapi pada pileg, mereka akan memiliki kepentingan yang sama, yaitu menembus batas parliamentary treshold 4%. Sama saja dengan Partai Demokrat,”ujar Arief.
Ditambahkan bila suasana konfliktual di level elit politik, tidak akan cukup mempengaruhi calon pemilih anggota legislatif. “Kader demokrat sebaiknya fokus saja menggarap konstituen, ketimbang menghitung kans Danny atau Deng Ical di partai masing-masing,”ujar Arief.
Hal berbeda disampaikan dosen politik Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto. Menurut Luhur, pilihan sikap Danny untuk berlabuh di Nasdem, membuat partai lain harus lebih realistis kalau mengharap dukungan. “Tentu Nasdem juga punya mekanisme mendisiplinkan kader, untuk tidak bermain-main dukungan pada partai lain,”ujar Luhur.
Dijelaskan bila Demokrat tidak akan memperoleh insentif elektoral dari perseturuan Danny di Nasdem dan Deng Ical di Golkar.
Baik pendukung Danny yang ada di Nasdem maupun Deng Ical di Demokrat, semakin sulit mengkapitalisasi dukungan tokoh itu untuk kepentingan elektoral di Demokrat. “Justru Demokrat kini harus mengandalkan ketokohan elit internalnya untuk mendongkrak perolehan suara. Demokrat sebenarnya punya pengalaman menghadapi ujian elektoral, tanpa dukungan kedua tokoh itu. Kalau pengaruh koalisi di Pilwali, saya kira pengaruhnya tidak signifikan lagi. Apalagi koalisi itu juga di bangun dengan basis pragmatisme elektoral,”pungkas Luhur. (ita/rif)



×


Rivalitas Danny-Deng Ical ‘Untungkan’ Demokrat

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar