MARWAH memulai usahanya dengan pengetahuan manajemen usaha yang minim. Selain itu, tak adanya dukungan orang tua di awal didirikannya, membuat semua hal ini menjadi kendala tersendiri.
Laporan: NUGROHO
Awalnya dirinya mengandalkan teman-temannya untuk membantu mendagangkan produknya. Ia menggunakan sistem reseller kepada teman-temannya tersebut. Ternyata sistem itu yang menjadi salah satu kendala.
“Pertama itu saya berdayakan teman-teman, sebagai reseller. Sistemnya mereka ambil dulu, nanti belakangan mereka bayar. Awalnya saya pikir ndak apa karena orang-orang saya kenal ji. Tapi ternyata kesalahannya biasa lama baru ada uangnya. Jadi perputarannya cukup sulit,” jelasnya.
Hal ini pun dikatakan Marwah cukup berpengaruh pada omzet yang ia dapatkan. Apalagi ditambah perputaran uang yang terhambat akibat keterlambatan pengembalian uang dari reseller, membuat usahanya tertatih-tatih diawal.
Namun sekarang Marwah mengatakan hal itu telah diperbaikinya. Sistemnya sekarang, ia menekankan untuk para reseller membayarnya terlebih dahulu baru diberikan barang. Selain itu juga ia telah bekerjasama dengan para toko oleh-oleh untuk menitipkan dangkenya di sana.
“Sekarang reseller harus ambil 30 pcs dan harus bayar duluan. Kalau ambil diatas 30, saya kasih harga normal. Tapi beda sama toko-toko. Kalau toko, biar bayar belakangan,” ujar Marwah.
Marwah juga menceritakan, awal ia merintis usaha, sempat ditolak oleh orang tuanya. Namun karena tekadnya, ia berusaha sendiri. Menggunakan beasiswanya sendiri, usahanyapun kini telah diterima oleh orang tuanya.
“Awalnya tidak diizinkan, makanya saya usaha sisihkan beasiswaku. Alhamdulillah orang tua sekarang na liat sendiri mi ini usaha, mereka sekarang merestui,” kenangnya.
Kini, penjualan produknya pun telah merambah sampai luar Sulsel. Kalimantan, Surabaya, hingga Malang telah berhasil ia jual dangkenya hingga kesana. Karena selain ia jual melalui reseller dan ke toko-toko, Marwah juga menjualnya secara online.
Sama seperti para pengusaha umumnya Marwah pun berharap bisa menjual produknya hingga ke luar negeri. Bukan hanya dijual, namun ia berharap produknya pun bisa dikenal dan disukai oleh masyarakat mancanegara.
Wanita inilah si pengubah wajah dangke dari yang hanya dikenal sebagai makanan tradisional, menjadi dikenal masyarakat luas. Dangke yang awalnya dikenal berbentuk hampir sama seperti keju, Marwah mengubahnya menjadi berbentuk seperti kerupuk dan cemilan yang hampir disukai semua orang.
Dari apa yang ia lakukan tersebut, bahkan kini dirinya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan menghasilkan omset penjualan hingga Rp2 juta per bulan.
Selain sebagai media untuk mempopulerkan makanan tradisional, dangke yang ia ciptakan mampu menjadikannya seorang wirausaha.
Bagi dirinya, tak perlu menunggu lama menjadikan sebuah potensi yang ada di daerah menjadi sebuah penghasilan.
Baginya selagi ada kesempatan harusnya gunakan sebaik mungkin, agar apa yang menjadi harapan dan cita-cita dapat tercapai.
Usaha yang digelutinya sejak awal 2018 tersebut diberi nama “Rumah Dangke Anona” yang beralamat di Jalan Kayu Agung 5 no 15 Bukit Baruga. Produk yang berbahan susu ini kini telah di pasarkan dibeberapa tempat penjualan di pusat oleh-oleh di Kota Makassar dalam kemasan kerupuk.
“Usaha saya ini terbentuk atas inisiatif sendiri dengan modal Rp1 juta, itupun dari dana beasiswa yang saya terima dari kampus dulu,” ungkap Marwah.
Selain itu, sambung Marwah, usaha yang digelutinya tersebut terinspirasi dari tanah kelahirannya yang terkenal penghasil susu yakni Kabupaten Enrekang.
“Kan saya orang dari Enrekang, dimana tempat kelahiran saya terkenal dengan penghasil susu, dan merupakan kesempatan untuk membuka usaha,” kata wanita kelahiran Enrekang, 1 November 1995 ini.
Dalam menjalankan sebuah usaha perlu ada inovasi baru, utamanya usaha kuliner, agar usaha tersebut bisa berkelanjutan. “Rumah Dangke Anona” produk yang sajikan ini pun tadinya berawal hanya tiga rasa yakni rasa coklat, kopi dan rasa original.(b)

