LUWU, BKM — Prosesi Mappacekke Wanua mengawali peringatan hari jadi Belopa ke 13 di Baruga Arung Senga Belopa, Kamis (7/2). Acara adat Mappacekke Wanua digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu. Saat prosesi adat para sesepuh dan tokoh adat hadir.
Dengan menggunakan seragam baju adat melakukan ritual “Mallekke wae” atau mengambil air suci dari sebuah sumur yang dinamakan Bubung parani. Bubung Parani sendiri adalah sebuah sumur khusus sebagai sumber air yang digunakan dalam acara ritual adat Mappacakke Wanua.
Kadis pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu, Amang Usman mengakui acara ini dilakukan dengan harapan agar kesejahteraan hidup masyarakat adat akan senantiasa menanjak seperti matahari terbit di ufuk timur.
Air suci yang di ambil (ri lekke) kemudian diarak dengan Sinrangeng lakko (usungan adat) di atas pangkuan seorang gadis remaja yang belum aqil baliq (tenna wette dara) sebagai simbol kesucian. Sinrangeng lakko (usungan adat) tersebut diiringi oleh palluru gau (instrumen dan atribut-atribut upacara adat) serta para pemuka adat.
Air yang disucikan tersebut diarak menuju baruga arung senga untuk diletakkan di atas “lamming pulaweng” atau “singgasana kehormatan”.
“Mappacekke Wanua yang secara harfiah berarti mendinginkan Negeri, maksudnya adalah untuk mendinginkan suasana atau menghilangkan ketegangan-ketegangan dan keretakan-keretakan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa berakibat melonggarkan komitmen kesatuan “maseddi siri” antar mereka”papar Amang.
Mappacekke wanua adalah salah satu ritual adat yang bertujuan melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan keseimbangan (equilibrum) kesatuan ikatan masseddi’ siri’ antara seluruh komponen di dalam masyarakat. (wan/C)

