pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Seringkali Dimarahi Jamaah Jika Sandal Tertukar

SALAH SATU pekerjaan yang mulia selain menjadi imam di masjid yakni menjaga sendal jamaah agar tidak hilang. Hanya saja, pekerjaan tersebut hanya dipandang sebelah mata oleh para jamaah. Padahal, merekalah yang menjaga sendal dan sepatu para jamaah. Seperti yang dilakoni Udhin.

Laporan: JUNI SEWANG

Udhin tampak pontang-panting menerima sendal dan sepatu milik puluhan jamaah di Masjid Nurul Baried Halaman Kantor Pos, Jalan Selamet Riyadi No.10, kemarin. Saat ditemui penulis ia tampak sibuk mengambil sepatu jamaah yang dititipkan padanya.
Hal ini bisa dipahami. Pasalnya, di bulan ramadan ini adalah pertanda rezeki datang menghampirinya.
Udhin adalah salah satu penjaga penitipan sepatu yang sehari-harinya mengandalkan uluran rezeki dari jamaah. Tanpa mematok tarif, biasanya jamaah memberinya Rp 2.000 sebagai upah atas balas jasa penitipan sepatu.
Sambil menyusun dan merapikan sendal dan sepatu jamaah, Udhin mengaku amanah yang diberikan oleh penurus masjid harus tetap dijaga dengan baik.
Bahkan di balik pekerjaan yang dinilai sepele, terdapat tanggungjawab yang besar. Tak pernah terpikirkan di benaknya untuk memiliki apa yang orang-orang titipkan. Ia mengaku telah bertahun tahun menekuni profesi. Keberadaan dirinya, tidak lagi menjadi kekhawatiran jamaah akan sendal dan sepatunya hilang.
“Sejak 2013. Dulu itu, masjid belum sebagus sekarang. Masih bangunan yang tidak memiliki kamar mandi,” katanya sembari mengepel lantai masjid disela sela pekerjaannya sebagai penyusun sepatu ke dalam rak kayu.
Bulan Ramadan tak menjadi ladang amal baginya. Tanggungjawab adalah prinsip utamanya.
“Pekerjaan yang santai namun serius. Apa saja yang pengunjung titipkan disini itu amanah. Tidak hanya berupa sandal. Ada juga yang menitipkan tas dan bawaan lainnya,” ujar Udhin.
Menurutnya, kurang lebih 6 tahun menjadi seorang penjaga sandal adalah hal yang menyenangkan.
“Kalau saya tinggalkan rumah di Daya jam 08.00 pagi, naik angkot sampai disini jam 09.00 pagi. Setibanya di masjid langsung bersih bersih masjid, rapikan masjid,” jelas Udhin.
Disinggung mengenai gaji, Ia mengaku tak seberapa. Pengelola masjid memberi Rp100 ribu/ hari Jumat.
“Untuk urus masjid, digaji per Jumat itu Rp100 ribu, untuk pekerja penjaga sandal, se ikhlasnya, kalau sedang ramai, mungkin sehari dapat sekitar Rp20.000,” tuturnya.
Dalam sehari biasa saja kurang dari Rp10.000. “Paling Ramai di Bulan Ramadan. Karena jaga sampai malam. Juga di sepuluh malam terkahir. Karena orang-orang berdatangan untuk beribadah malam hingga sahur menjelang,” cerita Udhin.
Sepanjang kariernya sebagai penjaga sandal yang sudah bertahun tahun. Tak pelak, banyak sekali peristiwa yang membuat iris hatinya.
“Waktu itu malam hari. Ketika mengambil sandal titipan, seorang pengunjung mesjid mengaku tertukar. Saya dimarahi dan dicaci-maki dan kena marah oleh pengurus masjid juga,” tuturnya seraya mengingat.
Kebanyakannya, kata Udhin, orang yang mengaku kehilangan atau sandalnya tertukar pastilah sandal baru. “Entah mengapa, pasti saja pemilik mengungkapkan kalau sandalnya yang hilang atau tertukar pasti sandal baru,” ucapnya.
karena memang kesalahan, membuat beberapa sandal yang hampir sama modelnya tertukar. “Kami diminta untuk mengganti. Ya, saya memohon kepada si pemilik agar di beri keringanan. Seperti separuh dari harga baru, biar tidak terlalu berat gantinya,” beber Udhin. (jun)
EDITOR: WARTA SHALLY HIDAYAT



×


Seringkali Dimarahi Jamaah Jika Sandal Tertukar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar