MESKI BISNIS yang dijalankan masih tergolong rumahan, siapa sangka bisnis menjahit yang dijalani Nurlaela Syamsia berjalan lancar. Kini ia telah mempekerjakan empat orang pegawai dan memiliki 16 orang murid les privat setiap minggunya.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Tidak heran jika pendapatan Nurlaela dari bisnis menjahit bisa menopang perekonomian keluarganya. Bahkan di momen-momen tertentu, permintaan jahitan dan orderan baju gamisnya diserbu seperti pada menjelang lebaran, kemarin. Jumlah peserta lesnyapun terus bertambah setiap tiga bulannya, sebab Nurlaela membuka kelas menjahitnya tiga kali dalam satu tahun, dimana pesertanya membayar Rp2.5 juta/3 bulan.
“Yaa lumayan-lah, karena tidak tetap juga kita dapat, kadang pesanan jahitan ada 10 sampai 40 jahitan dalam sebulan. Mulai harga Rp150-800 ribu dalam satu steel baju/gaun, jadi tidak tentu berapa. Beda juga dengan lesnya kadang sampai lima sampai 20 orang yang saya ajar,” ungkapnya kepada penulis.
Lanjut Nurlaela mengaku omset yang didapatkan ibu dari empat orang anak ini dari hasil baju yang dibuatnya sendiri bisa mencapai Rp5-10 Juta dalam dua minggu. Itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan menjadi modal tabungan keluarganya serta mengaji para karyawannya. Untuk membuat usaha jahit menjahit dan pakaian laris manis dan menguntungkan serta dapat bersaing dengan bisnis pakaian jadi yang telah ada, tentu saja Nurlelah membeberkan kalau diperlukan beberapa strategi.
“Saya sering berbagi pengalaman saya, promosi sama teman-teman. Saya juga sering memasang banner sama iklan di sosial media tapi anak-anak pegawaiku yang kerjakan ki. Saya belajar juga bagaimana bisa kembangkan usahaku sama teman-teman juga, semua kita harus mau belajar,” bebernya.
Dukungan atas usahanya juga kadang mengalami masalah mulai dari komplenan pelanggan, ketepatan waktu dan manajemen keuangan. Namun baginya komplen itu bukanlah suatu masalah yang besar justru itu adalah suatu peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dari yang sebelumnya. Belum lagi dukungan dari keluarganya juga sangat kuat, yang membuat Nurlaela bisa melalui itu semua.
“Kalau saya itu, tidak mau menyerah itu juga saya ajarkan sama anak-anakku selalu, mereka harus belajar dari kesalahan. Jangan selalu anggap kesalahan adalah akhir dari segalanya. Asalkan kita terus berusaha, percaya diri dan jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah pasti selesai,” jelasnya.
Wanita Kelahiran ini Pangkajene, 22 Mei 1972 ini mengaku, mulai menjalankan bisnis menjahit ketika dirinya bingung bisa mengerjakan pekerjaan apa tanpa meninggalkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dulu kehidupan Nurlaela mengalami krisis ekonomi, sebab pekerjaan sang suami hanya seorang pegawai biasa di salah satu perguruan tinggi di Makassar.
“Saya ke Makassar itu, karena ikut suami karena dia kerja disini. Mulai menjahit karena gaji suami juga tidak seberapa dan kebutuhan juga semakin tinggi. Mau andalkan gaji suami itu tidak cukup, makanya saya buka saja bisnis menjahit kecil-kecilan karena bisa bekerja dirumah juga urus keluarga juga bisa,” ungkapnya kepada penulis, baru-baru ini.
Laela mendapatan keahlian menjahit usai lulus SMA dan mengambil les menjahit. “Karena saya pernah punya niat kalau nanti saya tidak lanjut kuliah atau susah kerja di pemerintahan atau kantor saya mau buka usaha menjahit saja. Hampir satu tahun saya belajar menjahit dan itu tidak mudah,” katanya.
Membuka bisnis pasti menemukan kendala dan kesulitan. Sama halnya yang dirasakan Laela, ibu dari empat orang anak ini mengaku bermacam-macam cobaan pun pernah ia alami selama membuka bisnis jahit rumahan. “Semuanya ada, saya juga pernah dimarahi pelanggan gara-gara salah ukuran pas bikin pola, salah hitung ukuran. Tapi kita sabar saja, sudah resikonya kita,” ujarnya.
Keuntungan yang didapatkan dari bisnis menjahit rumahan juga diakui Laela tidak seberapa, dirinya pernah mendapat bayaran sebesar Rp10 ribu rupiah untuk permak. Sedangkan buat baju dibayar dengan harga Rp80 ribu. Namun Leala tetap syukuri dari hasil usahanya yang di mulai sejak tahun 2009 sudah mampu membeli mesin tambahan hingga sekarang total mesin jahit yang ia memiliki 6 buah.
“Kalau sekarang sudah lumayan karena saya selain buka jasa menjahit, saya juga jual baju gamis sendiri, dan menjualnya di online. Termasuk membuka privat menjahit dua kali seminggu,” bebernya.
Namun kata pepatah usaha tidak menghianati hasil. Saat ini jasanya sangat dibutuhkan orang banyak untuk membuat gaun pernikahan, seragam muslim dan lainnya. “Bagi memulai bisnis tak perlu berfikir lama.”yang penting berusaha terus dan jangan putus asa,” ucapnya. (*)

