pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Bahan Baku Batu Bata di Pannyangkalang Mulai Menipis

GOWA, BKM — Selama ini, banyak perajin batu bata di Desa Pannyangkalang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, kesulitan untuk mengembangkan usahanya. Pasalnya, mereka jarang melakukan perhitungan secara berimbang antara harga komponen batu bata, seperti tanah, pasir, kayu bakar, dan batubara dengan penggunaan tenaga, waktu, peralatan, dan personel produksi.
Cara perhitungan mereka lebih banyak didasarkan pada faktor-faktor manusiawi daripada memburu keuntungan secara ekonomi. Perhitungannya bersifat relatif tanpa pertimbangan-pertimbangan rasional. Apabila berada sebagai pedagang atau penjual, mereka belum bisa membedakan antara modal usaha dengan modal rumah tangga.
Sekretaris Desa (Sekdes) Pannyangkalang, Kecamatan Bajeng, Mansur bersama Kepala Dusun, Abdul Latif Sikki di kantor Desa Pannyangkalang di kantor Desa Pannyangkalang, Sabtu (27/7), mengemukakan, sekitar 200-an pengelola industri kecil itu, bentuk-bentuk investasinya didasarkan pada penggunaan sumber yang mendukung pertumbuhan hubungan sosial.
Tetapi belakangan, bahan baku tanah sudah menipis. Sehingga untuk melanjutkan usaha industri batu bata itu, harus didatangkan dari luar desa atau luar kecamatan melalui pertambangan dengan harga tinggi.
Harga tanah atau pasir sekitar Rp13 juta pertahun (Rp450.000 pertruk). Kayu bakar sekitar Rp100 juta pertahun untuk tiga kali produksi atau setiap usai panen. Total harga bahan baku mencapai Rp114 juta lebih pertahun.
Sementara harga jual juga cukup memadai karena pasarya meliputi wilayah Sulsel. Sistem jualnya terdiri dua unsur. Ada yang dijual mentah kepada Punggawa jika modal untuk beli kayu bakar menipis. Tapi yang populer dijual adalah dibakar. Harga batu ukuran kecil, sedang, dan ukuran besar (jumbo).
Ukuran kecil Rp 300 perbiji (Rp300.000 perseribu biji) dan Rp550-600 perbiji ukuran jumbo (sekitar Rp600.000 perseribu biji) beli di tempat. Kalau diantar ke Kota Makassar sekitar Rp700 sampai 800 perbiji atau Rp800.000 perseribu biji.
Penetapan harga jual ini dibenarkan pula seorang tokoh masyarakat Daeng Basri. Dua orang pembuat batu bata, yakni Dg Bella serta Salengke Dg Ngalle di Dusun Borong Untia Desa Maccini Baji Kecamatan Bajeng. Keduanya memproduksi batu sebanyak 1.200.000 biji/tahun dalam tiga atau empat kali masak.
”Jumlah ini bisa ditingkatkan hingga dua kali lipat jika menggunakan wadah teknologi handtractor pengolah bahan baku. Manfaatnya para pengusaha industri batu bata bisa lebih kaya,” tuturnya. (zai/mir)



×


Bahan Baku Batu Bata di Pannyangkalang Mulai Menipis

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar