ANTRIAN padat kerap terlihat di salah satu sudut Jalan Letjend Hertasning, Makassar. Di sebuah outlet kecil, sebuah varian makanan Pisang Coklat cukup menjadi primadona masyarakat beberapa bulan terakhir. Outlet itu milik Nirwanti.
Laporan: NUGROHO
Outlet berwarna kuning yang hanya berukuran kurang lebih 2×3 meter ini hampir tiap harinya dipadati pembeli. Baik masyarakat sekitar, maupun para driver online pengantar makanan.
Outlet itu bernama Piscok Super. Menjual berbagai macam pisang yang dibalut dengan aneka macam coklat. Mulai jam 13.00 siang hingga jam 12.00 malam, outlet ini tak pernah sepi pengunjung.
Penulis sengaja mampir di outlet tersebut sebelum buka supaya bisa berbincang lebih dengan si pemilik. Beruntung saat itu pemiliknya, Nirwanti berada di lokasi. Dengan ranah, ia pun membagi pengalamannnya selama mengelola usahanya ini.
Piscok Super tergolong usaha yang baru. Mulai berdiri sejak 2017, namun usaha ini sudah merambah hingga ke Jakarta. Semangat dan kerja keras, menjadi kunci dari suksesnya Piscok Super.
Terhitung sudah ada tujuh cabang di Makassar, masing-masing cabang di Gowa, Takalar, Masamba, Mamuju, dan ada tiga cabang di Jakarta. Untuk di Makassar, selain di Jalan Letjend Hertasning, ada di Jalan Masjid Raya, Jalan Abdul Kadir, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Leimena, Jalan Mappanyuki, dan Jalan Dg Ramang.
“Untuk yang di Makassar, saya yang mengelola langsung. Kalau yang di daerah dan di Jakarta, itu sudah kami franchisekan,” kata wanita 49 tahun ini.
Usaha ini bermula dari Nirwanti yang memang sangat hobi masak. Kemudian saat itu anaknya yang bernama Muhammad Abi Rafdi mengusulkan kepadanya untuk membuatkan usaha. Terutama yang pisang coklat, karena menurut Abi saat itu, masakan tersebut unik dan bahkan belum ada yang jual.
“Piscok buatan saya ini bisa dibilang pelopor pisang coklat. Saya pikir waktu itu, makanan apapun kalau di mix dengan coklat pasti enak. Saya coba di pisang. Dan setelah Piscok ini, akhirnya banyak lagi orang yang menjual makanan varian pisang coklat lainnya,” ungkapnya.
Awalnya Nirwanti membuka usahanya di rumahnya sendiri di Jalan Arwana. Ia tidak menyangka ternyata saat itu respon masyarakat yang beli, semua langsung suka. Bahkan beberapa dari yang beli, kembali lagi untuk membeli kesekian kali. Dari situlah ia mulai bersemangat dan berhasil mengembangkan usahanya hingga saat ini.
“Ternyata waktu itu banyak yang suka. Akhirnya Abi juga buatkan instagramnya, dan mulailah berkembang. Sekarang Alhamdulillah, sehari untuk satu outlet bisa dapat sampai Rp10 juta yang di Masjid Raya. Kalau yang disini sekitar Rp5 juta sampai Rp7 juta sehari,” bebernya.(b)

