SAAT INI usaha budidaya jamur yang dijalankan Anamiel Adnan mulai dirasakan manfaat dan keuntungannya. Selain memenuhi kebutuhan orang yang memesan untuk rumah tangga, kini ia juga sudah siap mensuplai jamur ke hotel dan luar Makassar.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Menurutnya, usaha jamur memang menguntungkan karena masih sangat jarang orang mau melirik usaha tersebut. Untuk itu, stok jamur sudah bisa memenuhi kebutuhan hotel dan pemesan luar Makassar.”Kami sisa menunggu kerjasama mereka terkait suplai jamur dan berapa banyak permintaan mereka,” jelas mahasiswa UIN Alauddin ini.
Kepada penulis, Anamiel mengaku usaha budidaya jamur miliknya sudah besar. Bahkan saat ini ia terbantu dari segi pendanaan usahanya, sebab baru-baru ini mendapatkan prestasi sebagai Wira Usaha Mandiri.
“Ada program pengembangan UMKM, saya kemarin ikuti itu lumayan saya bisa dapat bantuan dana usaha sebesar Rp30 juta. Awalnya tidak yakin karena untuk ikut lomba yang kemarin itu, kurang percaya diri. Cuman ada teman-teman dukung saya, saya coba saja pasrah juga hasilnya,” ungkapnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga berharap bisnisnya bisa menembus pasar nasional lewat dirinya masuk dalam pengembangan UMKM. “Saya ingin perluas jaringan usahaku ini lewat UMKM makanya saya akan masuk kesitu,” ucapnya.
Sekarang, Adnan dibantu beberapa temannya sedang menyewa sebuah kontrakkan yang halamannya luas untuk dijadikan budidaya jamur dan sekolah gratis berkebun jamur, sangat jarang mendapatkan sekolah kebun jamur.
“Saya ingin mahasiswa lain juga bisa memulai usaha dari bahan baku jamur dan masyarakat juga bisa menjadikan usaha jamur sebagai peluang menambah penghasilan. Karena beberapa sudah bisa berkebun jamur di rumah mereka sendiri,” bebernya.
Perlahan tapi pasti, bisnis terus berkembang dan membuka jalan bagi mahasiswa bisnis jamur, dan keuntungan itupula digunakan Adnan menambah daftar pelanggannya.” sehari bisa tanam sampai 500 polibag dan didistribusikan media tanam atau senilai Rp20 juta.
“Kalau sekarang banyak juga konsumen membeli dalam bentuk media pembibitan lansung, jadi ada dua yang saya jual itu, media bibitnya sama hasil jamurnya langsung,” ujarnya.
Anamiel juga bercerita kalau untuk memulai usahanya, Adnan mencoba meminjam modal ke beberapa teman organisasinya.” Saya sempat gagal dua kali, sampai-sampai saya harus pinjam kesana kemari ke teman, karena saya tidak mau lagi membuat susah orangtuaku. Untungnya percobaan ketiga akhirnya berhasil bisa hasilkan 16 kiloggram jamur. Saya jual perkilonya dulu Rp30 ribu kalau sekarang Rp50 ribu, media tanamnya juga beda juga,” bebernya.
Sambil menyeka keringat yang ada di dahinya, pria kelahiran Gowa 2 Maret 1998 ini mengaku, memutuskan membudidaya jamur berangkat dari keinginanya ingin merubah nasib keluarganya dan tidak mau kalah dengan usaha lainnya. Terlebih lagi budidaya jamur di sekitar Makassar Gowa belum banyak yang menggeluti usaha tersebut.
“Bukan tentang bayar kuliah saja, saya lebih kasian lihat orangtua saya menjadi buruh tani, tidak punya tanah sendiri untuk menanam padi dan sayur, sehari-harinya hanya menjaga milik orang lain. Makanya saya mau usaha sendiri dan bisa kasih orangtua, tidak melulu minta,” tuturnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini menambahkan, ia sudah bisa meringankan beban kedua orangtuanya dan bisa memberikan biaya sekolah adiknya serta bisa merenovasi rumah orangtuanya. “Rumah orangtuakan rumah panggung sudah rapuh, sedikit untung yang didapat saya sisihkan untuk orangtua,” ujarnya.(*)

