Penulis : Andi Rustan
Keluarga berencana sudah waktunya
Janganlah diragukan lagi
Keluarga berencana besar maknanya
Untuk hari depan nan jaya
Putra putri yang sehat cerdas dan kuat
Kan menjadi harapan bangsa
Ayah ibu bahagia, rukun raharja
Rumah tangga tentram sentosa
(2X)
Lirik lagu di atas adalah Mars Keluarga Berencana (KB). Bagi masyarakat awam, lagu ini mungkin tidaklah populer. Apalagi bagi kalangan milenial, mereka yang lahir di antara tahun 1990 dan 2000-an. Tetapi lagu ini sering dinyanyikan bila ada pertemuan yang membahas soal KB.
Mars ini diciptakan oleh seorang komposer bernama Mochtar Embut. Kehadirannya saat Presiden Soeharto menjabat. Kala itu program KB lagi gencar-gencarnya dilaksanakan.
Bagi mereka yang hidup di zaman Soeharto, Mars KB tentulah tidak asing. Karena waktu itu penyiarannya cukup masif. Khususnya melalui media elektronik radio dan televisi. Tak banyak pilihan masyarakat saat itu. Karena yang ada hanyalah radio dan televisi milik pemerintah, yakni RRI dan TVRI.
Sejak saat itu, tujuan mulia dan utama program KB adalah meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, dalam rangka mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera adalah mengendalikan kelahiran, sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk.
Selain itu, juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah penduduk menggunakan alat kontrasepsi. Menurunkan jumlah angka kelahiran bayi. Meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan menjarangkan kelahiran.
Yang menjadi sasaran utama program ini adalah mereka yang sudah berkeluarga. Terutama kalangan ibu-ibu. Motto dua anak cukup, lagi-laki perempuan sama saja, gencar digemakan. Berbagai program dalam upaya mendukung keberhasilan KB terus dimunculkan.
Seiring perkembangan zaman, muncul pertanyaan; apakah anak-anak kita yang lahir di tahun 90-an ke atas tahu Mars KB? Tidak usahlah mereka disuruh untuk menghafalnya. Mendengarnya saja mereka jarang, jika tak ingin disebut tidak pernah. Kalau pun ada, mungkin hanya segelintir. Mereka adalah remaja yang direkrut dan bergabung dalam Generasi Berencana (Genre) oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Tidak salah jika kemudian BKKBN mencetuskan wacana rebranding demi menyasar kalangan milenial. Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo,SpOG dalam Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi di Sleman, Yogyakarta belum lama ini, menyinggung hal tesebut.
Dikatakan Hasto, Indonesia tetap berkomitmen menjadi pionir dalam pelaksanaan program KB dan kesehatan reproduksi di tingkat global. Namun dengan mengangkat tema berbeda, yakni nilai-nilai kekeluargaan atau kesolidan yang masih melekat di masyarakat Indonesia.
Jika dulu kesuksesan yang diraih adalah mengangkat isu alat kontrasepsi, dan menurunkan angka kelahiran total (total fertility rate/TFR). Yakni dari 5,6 menjadi 2,6, dan saat ini 2,4. Itu adalah sukses luar biasa. Tapi bila ingin sukses dua kali, tentu tidak dengan tema yang sama.
TFR atau angka kesuburan total adalah istilah yuang digunakan di bidang demografi untuk menggambarkan jumlah rerata anak yang akan terlahir dengan selamat, dari seorang wanita yang mengalami tingkat kesuburan spesifik, serta dia akan selamat dari kelahiran sepanjang usia reproduktifnya.
Atas dasar itulah muncullah keinginan merebranding ekosistmen di BKKBN. Tidak lagi top down, meski spiritnya tetap sama. Karena masih solidnya keluarga di Indonesia, menjadi homebas. Sebab ada filosofi asih, asuh, dan asah di sana.
Rebranding ditargetkan selesai Desember tahun ini. Jika terwujud, akan menjadi kekuatan baru. Karena saat ini bukan lagi zamannya one man one vote. Semua harus dilibatkan agar program bisa berhasil.
Sebagai bagian dari rebranding, BKKBN juga akan meluncurkan indeks pembangunan keluarga (family development index/FDI) di tahun 2020. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sudah mengetahuinya dan menentukan angkanya. Karena merebranding BKKBN tidak hanya di masalah jargon, tapi juga mindsetnya.
Dalam merebranding, BKKBN mulai bekerja menyentuh kaum milenial yang angkanya berada pada 35 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat ini. Dengan demikian, mereka akan punya imej yang baik soal KB.
Ada banyak alasan penting bagi BKKBN untuk menyentuih kalangan remaja.
Karena bila ingin membangun sumber daya manusia (SDM) yang menjadi fokus pemerintahan Presiden Jokowi saat ini, kaum remaja harus mendapat perhatian serius. Cara pandang dan berpikir juga harus digeser, yakni melihat KB bukan hanya pertumbuhan penduduk, tapi juga menghasilkan manusia yang produktif.
Langkah konkret untuk meningkatkan SDM, salah satunya melalui promosi KB dan edukasi kesehatan reproduksi (kespro). Selama ini, dalam promosi KB, yang paling sulit adalah masyarakat Indonesia tidak terbiasa melakukan perencanaan. Kampanye tersebut diharapkan membawa imej baru tentang KB secara luas, dan mengajari perempuan untuk merencanakan siklus reproduksinya.
Kendati demikian, kenyataannya terkadang perencanaan seringkali berada di luar kendali perempuan. Terutama yang terkait dengan kehamilan dan anak yang dikandungnya. Hal ini erat kaitannya dengan kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Rebranding juga seharusnya dilakukan pada Mars KB. Lirik dan genre musiknya perlu lebih mengikuti selera remaja milenial. Dengan begitu, kita berharap suatu hari nanti mereka juga hafal lagu-lagu tentang KB. Lalu kemudian tertarik untuk menjadi bagian dari upaya lebih menggelorakan dan mendukung keberhasilan program KB.

