TERIKNYA matahari dan dinginnya hujan tidak terasa pada kulitnya. Aktivitas jalanan dengan mengenakan seragam oranye dan ‘senjata pamungkas’ berupa skop, Tarumpu Dg Juga siap masuk ke dalam drainase yang ada di wilayah Kecamatan Manggala.
Laporan: JUNI SEWANG
Pria duda tiga anak ini tinggal bersama dua orang cucunya yang masih kecil, beberapa kali terlihat menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika mengangkat sampah hasil produksi pasar dan atau sampah rumah tangga yang menurutnya tidak sepantasnya ada di drainase.
Di sepanjang aliran drainase Manggala, yang dipenuhi sampah seperti, popok bayi, pecahan beling, dahan kayu kering bahkan bangkai ayam juga kucing, semua dibuang menumpuk berceceran dan sembarangan.
“Sengaja memang warga membuang ke selokan. Bangkai ayam, bangkai kucing, apa saja dibuang di sini. Sampai sampah pampers itu saya ambil dan saya taruh lagi ke dalam karung untuk diangkut,” ujar kakek yang akrab disapa Dg Juga sambil berjalan menyusuri drainase, sore kemarin.
Kepada penulis, Dg Juga mengaku, beragam upaya terus dilakukan pemerintah agar masyarakat bisa sadar akan pentingnya pola hidup bersih. Semisal, memberi edukasi pemilahan sampah kering dan basah, lalu menyarankan supaya buang sampah pada tempatnya. Hanya saja, masyarakatnya yang masih kurang sadar membuang sampah ke drainase.
Bahkan ia tak segan menegur keras pedagang atau warga yang kedapatan membuang sampah ke dalam drainase. Ia merasa miris dengan sebagian tingkat kesadaran pola hidup bersih orang perkotaan yang ia nilai tidak peduli lingkungan.
Dari teguran keras yang kadang ia lempar, tak jarang juga Dg Juga mendapat omelan bahkan serangan balik dari warga dan pedagang. Meski hingga kini masih banyak dijumpai warga yang membuang sampah sembarangan, Dg Juga tak pernah berhenti menasehati dan memberi edukasi kebersihan pada masyarakat.
“Sering bertengkar sama pedagang pasar dan warga yang buang sampah sembarangan, tidak bisa dibilangi. Biasa dibilangi tugasmu memang, tapi saya tidak peduli, biarkan sudah jadi tugas saya. Yaah…sambil buang sampah mereka biasa bilang, kan sudah dibayar buat bersihkan sampah ya sudah kerjakan,” katanya.
Ia sudah mengabdikan dirinya sekitar 5 tahun sebagai Petugas Kebersihan Swakelola Kecamatan Mangga. Ia tak memilik jadwal libur, namun mirisnya kerja Dg Juga tidak terhitung di tanggal merah. Penghasilan yang ia terima setiap bulan dihitung perharinya Rp40rb/hari. Pekerjaan Dg Juga akan semakin berlipat ganda jika mulai memasuki musim penghujan.
Walaupun terkadang harus bekerja keras, Dg Juga, merasa bersyukur bisa bekerja. Ia menganggap pekerjaanya yang kotor dan keras ini ialah jalan halal dan mulia. (*)

