pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berat Jika Ada 5 Calon di Jalur Perseorangan

MAKASSAR, BKM–Meski terbilang berat, bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar tetap tertarik bertarung lewat jalur perseorangan. Bahkan ada yang telah mengambil user Sistem Informasi Pencalonan (Silon). Pengamat politik rata-rata pesimis jalur perseorangan ini bisa diikuti lima calon.

Mereka yang tertarik di jalur perseorangan yakni Andi Munawar Syahrir yang dikabarkan akan berpasangan dengan Andi Nur Wajidah, Jabal Nur dengan Muhammad Rivaldi, Iriyanto Andi Baso Ence dengan Ali Haq dan Muhammad Ismak, serta Muhammad Ramdhan (Danny) Pomanto.
Sedangkan bakal calon yang mendaftar lewat jalur partai politik di Pilwali Makassar yakni, Munafri Arifudin alias Appi, Syamsu Rizal Mi alias Deng Ical, Irman Yasin Limpo alias None, dokter Onasis, Syarifuddin Daeng Punna, Andi Mustaman, dan Sukriansyah S Latief.
Sedangkan di luar Makassar, sejumlah petahana juga tertarik masuk lewat jalur perseorangan. Sebut saja Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan yang perpasangan dengan Abd Rauf Malaganni Krg Kio, Bupati Selayar, Basli Ali- Syaiful Arif.
Pemerhati politik dari Duta Politika Indonesia (DPI), Dedi Alamsyah Mannaroi, mengatakan, persaingan di jalur perseorangan sangat berat jika harus ada lima calon. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan syarat 78 ribu dukungan KTP-elektronik.”Bisa saja persyaratan tersebut double dimiliki oleh calon lain. Bahkan mereka hanya serius di awal pencarian dukungan KTP, tapi setelah berjalan disahkan KPU mereka cenderung meninggalkan pendukungnya,”ujar Dedi Alamsyah, Kamis (23/1).
Hal senada dikatakan Pemerhati politik dari Nurani Strategic, Dr Nurmal Idrus. Ia juga meragukan dengan banyaknya bakal calon wali kota yang berminat maju lewat jalur perseorangan. “Saya juga agak ragu dengan kemampuan paslon lain untuk lolos. Berbeda dengan Danny Pomanto yang sudah punya pengalaman lolos perseorangan di tahun 2018. Calon lain tentu harus kerja keras karena syarat kali ini amat berat,” ujar Nurmal.
Selain jumlah setor dukungan yang lebih besar karena mencapai 78 ribu dukungan, tambah Nurmal, juga karena proses verifikasi faktual KPU menggunakan sistem sensus. Artinya, semua dukungan yang masuk akan diverifikasi satu per satu oleh KPU.
Meski demikian, semua tentu tergantunng pada kemampuan infrastruktur jaringan mereka di bawah. Soal masih banyak bakal calon yang belum mengambil user silon, Ketua KPU Gowa, Muchtar Muis, menjelaskan bila tidak masalah, namun wajib menginput di silon. “Penyerahan dukungan mulai 19 Februari dan berahir pada 23 Februari,”ujar Muchtar Muis.

Luhur: Bukan Jalur Alternatif

PENGAMAT politik dari Unismuh Makassar, Dr Luhur A Prianto, juga menilai jika jalur perseorangan bukan lagi jalur alternatif, jika bakal calon gagal memilikikendaraan partai politik. “Jalur perseorangan tetap pilihan kandidat yang tidak cukup percaya diri berkompetisi merebut dukungan partai politik. Terutama di era begal partai politik dan pelibatan elit politik nasional dipenentuan arah dukungan partai. Jalur ini bisa menjadi cara terbaik untuk mendelegitimasi otoritas sentralistik yang ada pada partai politik,”ujar Luhur.
Tetapi persyaratan di jalur ini cukup berat. Kalaupun ada calon lolos verifikasi penyelenggara. Risiko elektoralnya lumayan berat, karena berhadapan kandidat yang di usung partai politik, yang memiliki infrastruktur politik.
Di antara kelima peminat jalur perseorangan tersebut hanya Danny yang punya pengalaman politik yang terukur. Beberapa peminat lain sepertinya akan mundur teratur dan tidak sampai di tahap pencalonan. Persentase dan sebaran dukungan untuk di verifikasi dan validasi, bukan hal mudah dilalui para bakal calon.
“Khusus untuk Danny mungkin sebagian pendukungnya menganggap jalur perseorangan mungkin lebih realistis. Terutama kalau berdasar pengalamannya di kontestasi Pilwali 2018. Jalur ini mungkin potensial untuk syarat sebagai kontestan, tetapi pada saat yang sama kembali membuktikan kelemahan Danny memobilisasi dukungan partai politik. Pilihannya bergabung di Nasdem dan membangun jejaring kerabat politik di Perindo menjadi eksperimen yang tidak bermakna,”jelasnya.
Meskipun bagi Danny, memastikan diri menjadi kontestan jauh lebih penting daripada membangun koalisi besar dukungan partai politik yang penuh ketidakpastian.
Dosen komunikasi politik dari UIN Alauddin, Dr Firdas Muhammad, juga menilai jika peluang jalur perseorangan cukup berat, terutama soal persepsi masyarakat yang mengaggap tidak dapat dukungan politik dari partai.
Lebih jauh, Pengamat Politik dari Unibos, Dr Arief Wicaksono juga mengemukakan bahwa peluang calon independen masih akan sama dengan peluang calon yang diusung parpol. Peluang baru bisa berubah, jika masing-masing mesin memperlihatkan kinerjanya.
“Disatu sisi, calon independen selalu membungkus perjuangannya dengan jargon dan logika “suara dan kehendak rakyat”, seolah-olah calon parpol bukanlah representasi kehendak rakyat, tapi tidak menolak juga jika ada parpol yang merapat untuk mendukung, dengan asumsi parpol punya struktur jaringan pemenangan yang bagus,”jelas Arief.
Tapi sementara itu, disisi lain, calon parpol selalu mengatakan bahwa parpol punya struktur jaringan pemenangan sampai ke level rumah tangga, tapi jika dicermati, parpol tersebut hanya punya sedikit kursi di parlemen. Itu kontradiksi.
“Berikutnya, harus kita lihat juga, berapa calon independen yang maju, dan kita bandingkan dengan DPT yang ada. Artinya, calon independen tersebut memiliki dua lawan yang pasti akan menguras segalanya, yaitu lawan dari dirinya sendiri dan orang lain. Dan itu berat sekali,”pungkas Arief. (rif)



×


Berat Jika Ada 5 Calon di Jalur Perseorangan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar