KOMPLEKS situs cagar budaya nasional yang dilindungi pemerintah seperti makam raja-raja Tallo, berbeda dengan kompleks pemakaman pada umumnya. Kalau pemakaman umum hanya dikunjungi untuk memberikan doa kepada keluarga yang meninggal, sementara kompleks makam raja-raja tempat mendapatkan informasi soal sejarah.
Laporan: JUNI SEWANG
Dg Rahman, yang dipercayakan menjaga makam raja-raja Tallo, kepada penulis mengatakan, di kompleks ini terdapat 21 makam. Mereka adalah keluarga terdekat raja Tallo, mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-19.
Kompleks ini-pun terbuka setiap hari dan bebas didatangi masyarakat umum. Pengunjung yang datang biasanya merupakan peziarah, rombongan siswa sekolah, atau pun wisatawan yang sekadar melihat-lihat sekeliling.
“Biasanya banyak orang berkunjung di waktu-waktu libur. Paling ramai di bulan muharram atau jelang ramadan. Kalau sekarang ramai dikunjungi studi banding oleh staf dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di sejumlah wilayah di Indonesia,” kata Dg Rahman, Minggu (9/2).
Sambil membersihkan makan, Dg Rahman menjelaskan, kalau di dalam area kompleks terdapat tiga tipe makam, yaitu kubang, papan batu, dan kubah.
Tipe kubang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, menyerupai bentuk susunan balok-balok candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Tipe makam ini biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat, atau pembesar istana. Tipe papan batu, yakni tipe yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu. Adapun tipe kubah, yakni bangunan yang beratap melengkung seperti kubah yang menaungi makam di dalamnya.
“Kompleks makam raja-raja Tallo diperkirakan berdiri seiring berdirinya Kerajaan Tallo di abad ke-15. Kerajaan Tallo awalnya merupakan hasil pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa oleh Raja Gowa VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya bersatu kembali melalui persekutuan bernama Kesultanan Makassar pada abad ke-16,” jelas Dg Rahman.
Ia juga mengaku, sejumlah makam sempat dua kali dipugar, masing-masing pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982. Bangunan dipugar hingga mendekati bentuk aslinya.
“Saat ini kompleks makam terawat dalam kawasan yang dikelilingi taman. Beberapa pepohonan tumbuh besar menghasilkan kesan rindang dan asri. Makam Macang Kebo paling ramai peziarah,” tambahnya.
Macang Kebo, kata Dg Rahman, merupakan panggilan dari I Manginyarrang Dg Makkiyo. Ia juga dikenang dengan gelar Karaeng Kanjilo Ammalianga ri Timoro. Dia putra Kareng Matoaya I Malingkaang Daeng Mannyonri, raja pertama Tallo yang menganut Islam.
“Sultan Mudaffar juga dikenal dengan julukan Macang Kebo Karaeng Tallo atau Macan Putih Raja Tallo. Julukan itu konon karena dia gigih dalam memimpin peperangan,” ungkapnya.
Ditanya bagaimana kalau mau masuk ke kompleks, Dg Rahman, menegaskan, kalau ada kunjungan biasanya melapor, karena masuk ke dalam makam raja raja Tallo juga harus permisi kepada pinata atau pemenang kunci makam raja,” ujarnya. (*)

