DI AWAL menjalankan usahanya, Adi mengaku sempat kesulitan. Khususnya, membiayai pengembangan produknya. Untuk memudahkan itu, Mallsampah dikatakanya sering diikutkan kompetisi.
Laporan: NUGROHO
Dalam kompetisi itu, beberapa berhasil ia menangkan. Dana hasil juara inilah yang digunakannya untuk pengembangan produk Mallsampah.
Sampai pada akhirnya, Mallsampah berhasil mendapat penghasilan sendiri. “Tahun 2018 adalah tahun dimana Mallsampah mulai berdiri sendiri secara mandiri,” cerita Adi.
Bahkan saat ini, kata dia di depan penulis, sudah menghasilkan sekitar puluhan juta, bahkan pernah tembus ratusan juta untuk nilai transaksi Mallsampah.
“Itu untuk nilai transaksi. Jadi dari seluruh sampah yang dijual, 10 persennya masuk di aplikasi sebagai biaya layanan,” ungkap Adi.
Nilai transaksi itulah yang berasal dari 150 mitranya. Mitra yang berasal dari tiga daerah, Makassar, Gowa, dan Maros.
Konsepnya sederhana, mitra ini mengambil sampah-sampah yang ada di rumah-rumah warga. Terus mereka akan jual, dan itu adalah keuntungan yang bisa didapatkan.
Beberapa sampah yang bernilai tinggi menjadi daya tarik para mitra Mallsampah. Misalnya plastik dan kertas.
“Untuk kedepannya kita juga akan bekerjasama dengan Bank Sampah milik pemerintah kota. Para nasabah Bank Sampah nantinya juga bisa menggunakan aplikasi ini untuk semakin memudahkan,” jelasnya.
Adi juga tak lupa menceritakan kisahnya di awal perintisan. Dimana waktu itu ada tiga orang termasuk dirinya yang membantu pengembangan Mallsampah.
Jika dibandingkan dengan saat ini, tentu berbeda jauh. Sekarang dikatakannya sudah ada 17 orang sebagai karyawan di Mallsampah. Selain itu ada voulenteer juga yang membantu Mallsampah kurang lebih 200an orang.
“Kita juga sudah ada kantor di Makassar Digital Valley,” ungkapnya.
Adi sendiri memiliki cita-cita besar dari aplikasi buatannya ini. Terutama ia ingin lebih banyak masyarakat yang terbantu dan menghasilkan uang dari sampah.
“Kita juga punya keinginan lebih membesarkan lagi Mallsampah. Semoga tahun ini, Mallsampah bisa hadir di salah satu kota di Jawa,” harapnya.
Adi juga menceritakan awal idenya, bermula pada 2014, saat ia masih tinggal di indekost di dekat Kampus Unhas. Alumni Fakultas Hukum UMI angkatan 2012 ini yang saat itu tinggal di indekost yang berada di lorong jalan, resah dengan seringnya sampah yang menumpuk di dekat tempat tinggalnya.
Saat itu alat angkut sampah hanya berupa truk yang tentu tidak bisa masuk di area lorong. Sehingga pengangkutan sampah di lorong-lorong saat itu menjadi sangat sulit.
“Kita melihat, pengepul dan pemulung sebenarnya bisa membantu masalah sampah di lorong-lorong. Idenya, pengepul dan pemulung ini bisa punya akses ke rumah-rumah langsung. Jadi mereka tidak harus korek-korek sampah di tempat sampah, tapi langsung sampah yang bagus dari rumah,” jelasnya.
Akhirnya, pada 2015 dibuatlah website Mallsampah. Saat itu kebetulan dikatakan Adi, ada temannya yang ahli dalam membuat website, dan bersedia membantunya dalam permasalahan sampah ini.
Awal beroprasinya, Adi mengatakan tidak bisa langsung memanfaatkan keuntungan dari Mallsampah. Bahkan ia harus melalukan riset terlebih dahulu dan menggaet mitra.
Menggaet mitra diratakannya adalah yang paling sulit. Bahkan dalam setahun lebih setelah Mallsampah ada di website, Adi baru berhasil mendapat 20 mitra. Mitra Mallsampah sendiri adalah para pengepul sampah dan pemulung.(*)

