MAKASSAR, BKM — Pandemi Covid-19 ternyata banyak hikmah yang bisa dipetik. Salah satunya dengan halal bihalal (HBH) yang dilakukan secara virtual yang bisa dihadiri siapa saja di seluruh penjuru dunia.
Seperti HBH virtual yang dilaksanakan Kerukunan Keluarga Indonesia Buton (KKIB) Sulselbar, Minggu (14/6/2020) yang berlangsung sejak pukul 13.30 hingga 17.00 Wita. Kegiatan yang diikuti diaspora Buton dari sejumlah daerah di Indonesia dan beberapa dari luar negeri berlangsung meriah dan mengharu biru.
HBH ini diawali dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, ketua panitia HBH, Rahmat Katon Muntia menjelaskan tentang teknis pelaksanaan HBH dan sejumlah peserta yang hadir.
Acara ini dipandu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, Dr Muliadi Mau yang juga Sekjen KKIB. Muliadi sangat lugas memandu HBH. Serius tapi santai. Bahkan kadang diwarnai canda untuk menyegarkan suasana.
Sementara itu, Ketua KKIB Sulselbar, Prof Ir Sumbangan Baja, MPhil dalam sambutannya mengawali dengan ucapan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh orang Buton yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri.
Prof Sumbangan Baja“Syukur Alhamdulillah kita bisa bertemu walau hanya secara virtual. Kami sangat bangga dengan kegiatan ini. Semoga dengan HBH ini, silaturahmi tetap terjaga,” kata Prof Sumbangan Baja yang kini menjabat Wakil Rektor II Unhas.
Kepada seluruh peserta, Prof Sumbangan juga mengatakan jika orang Buton itu sangat kreatif dan adaptif. Makanya, perantau Buton bisa dengan mudah diterima dimana saja di Seluruh Indonesia.
Pada HBH kali ini, Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Dr Hasaruddin, MAg membawakan hikmah halal bihalal. Di sela-sela ceramahnya, Prof Hasaruddin sempat bernostalgia. Ia mengaku sudah cukup lama tidak pulang ke Baubau. Ia kangen dengan suasana Baubau.
Prof Hasaruddin“Alhamdulillah kita dipertemukan walau hanya secara virtual. Tapi sangat bermakna,” katanya.
Di awal acara, peserta masih begitu bahagia. Bertegur sapa. Termasuk berbalas chat di chatroom. Tetapi saat lagu daerah Buton diperdengarkan, peserta mulai tertegun.
Lagu sedih berjudul Kakidisaku saat HBH dibawakan Inang Zizi diiringi alunan gambus petikan sang maestro gambus Sarfin.
Suara mendayu-dayu Inang dan melodi gambus mampu memghipnotis para peserta. Apalagi yang paham dengan arti lagu ini. Dari benteng keraton, lagu yang bercerita tentang seorang anak yang belum bisa membalas jasa orang tuanya karena orang tuanya telah tiada ini mengaduk perasaan para peserta HBH. Sebagian peserta terbawa perasaan (baper). Mereka pun menuliskan kesedihan di chatroom.
“Atiri loluku (air mataku langsung turun),” tulis salah satu peserta. Asraruddin, salah satu perantau Buton di Jakarta pun merasakan kesedihan.
“Saya sangat terharu. Lagu ini sangat menyentuh. Saya tidak bisa menahan air mataku turun,” kata Asraruddin.
Sebagian besar peserta mengungkapkan hal demikian. Mereka mengaku teringat orang tua yang telah tiada. Bahkan ada yang terlihat menyeka air matanya.
Suasana kembali ceria saat masuk acara saling sapa antara sesama perantau. Dimulai dari perantau luar negeri yakni Musurifu Lajawa dan Ruslan La Ane. Musurifu adalah diplomat RI yang bertugas di Kedutaan RI di Praha Republik Ceko. Sedangkan Ruslan La Ane berdomisili di Jepang.
“Minal aidin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin. Saya sangat bangga bisa bergabung di acara ini dan bertemu dengan teman-teman lama. Termasuk Ishaq Rahman (Kepala Humas Unhas). Itu yunior saya di HI Unhas,” kata Musurifu yang langsung disambut hormat Ishaq Rahman.
Ruslan La Ane pun ikut menyapa. Setelah itu beberapa perantau dari Jakarta, Bandung, Papua, Maluku, Ternate, Kaltara, Kalbar, Kaltim dan Surabaya. Mereka di antaranya Letkol Yunus (dosen di TNI AL Surabaya), Waode Hamsina Bolu (anggota DPD RI), Muhammad Ilyas (Sekjen KKST Jakarta) dan Prof Aminuddin Mane (Guru Besar UHO Kendari).
Beberapa senior KKIB juga dipersilakan untuk menyapa seperti Prof Sabri, La Kamidi, Yarmin Lanafie, La Hibu Tuwu, Yusri Zamhuri, Muhammad Haslinda, Imsan Muhaimin dan La Sirama.
Usai acara saling sapa panitia melakukan pengundian doorprize berupa dua judul buku yang mengupas tentang Buton. Satu buku yang mengupas tentang keunggulan Buton dan satu buku lagi tentang perlawanan Sultan Himayatuddin Oputa yi Koo melawan Belanda.
Di akhir acara, Ketua KKIB menyampaikan bahwa HBH virtual ini adalah pembuka untuk memulai diskusi tentang kepulauan Buton.
“Nanti teknisnya pengurus akan menggodok temanya. Dan acara hari ini sungguh luar biasa. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah bergabung. Tidak terasa acara yang dimulai pukul 13.30 dan hingga 16. 24 masih berlangsung,” kata Prof Sumbangan Baja. (*)

