PAREPARE, BKM — Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe (TP) tampil excellent sebagai pembicara dalam bedah buku Memahami Kebijakan Pemerintah Dalam Menangani Covid-19 secara virtual.
Secara lugas, Taufan Pawe mengapresiasi dan mengkritisi buku yang ditulis Prof Dr Aminuddin Ilmar, pakar hukum tata negara dan guru besar Fakultas Hukum Unhas Makassar yang dibedah secara virtual, Jumat (12/6) akhir pekan lalu.
“Saya bangga buku ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi kebijakan pemerintah menangani Covid-19. Karena ini adalah bedah buku, maka izinkan saya Prof menyampaikan kelemahan dan kelebihan buku ini,” ujar Taufan, mengawali ulasannya.
Sebagai masukan awal, Taufan menilai pemilihan diksi pada kata “memahami” pada judul buku dinilainya kurang relevan dengan isi buku yang dinilai lebih banyak mengkritisi kebijakan Pemerintah dalam penanganan covid-19.
“Kalau kata memahami saya menilai sangat datar. Idealnya memahami diganti menjadi kata mengkritisi karena setelah saya membaca buku Prof lebih banyak mengurai pendekatan sosial kemasyarakatan dibanding pendekatan hukum,” sebut Taufan.
Dia juga menilai paparan Prof Aminuddin masih dalam kisaran 60 persen, jika ditelisik berdasarkan judul kajian kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19.
“Saya melihat buku ini baru sampai 60. Masih ada hal yang kami harapkan diulas dalam buku Prof, terkait bagaimana kebijakan pemerintah pasca pandemi, dan bagaimana kesiapan menuju new normal,” imbuh Taufan.
Taufan mengungkap sejumlah kelemahan dalam pengambilan kebijakan yang ditempuh pemerintah pusat dalam penanganan Covid-19 yang dinilai salah sejak awal.
“Saya melihat ada kekeliruan. Andai dari awal, semua kepala daerah didudukkan bersama-sama, diberi ruang berimprovisasi dalam berinovasi sebagai hak diskresi yang melekat, maka daerah bisa berinovasi dalam protap Covid-19,” urai Taufan. Dia mencontohkan, kasus pengambilan paksa jenazah Covid-19 oleh keluarga pasien.
“Kasus pengambilan paksa jenazah karena terhambat protokol kesehatan. Andai pemerintah daerah diberikan ruang berimprovisasi, maka bisa memasukkan jenazah di freezer untuk sementara, sambil menunggu hasil swab keluar. Jika hasil swab negatif, maka kita kembalikan kepada keluarga tapi jika positif dilakukan pemakaman sesuai protap,” lugas Taufan menjelaskan.
“Excellent masukannya, terima kasih Pak Wali,” timpal Guru besar Unhas ini, usai mendengar paparan Taufan. (mup/C).

