MAKASSAR, BKM–Tak terasa sudah empat bulan aktivitas belajar mengajar tidak lagi dilakukan dengan tatap muka antara siswa dan guru. Ini di karenakan masa pandemi covid-19 yang belum reda, sehingga tatap muka diganti dengan kebijakan belajar di rumah. Dinas Pendidikan Sulsel tetap menunggu kebijakan untuk melakukan kegiatan tatap muka di sekolah.
Apalagi, tahun ajarab baru di kalender dinas pendidikan berada di tanggal 13 juli mendatang.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Sabri mengatakan, ia tetap mengikuti kebijakan dari menteri pendidikan dan kebudayaan terkait pelaksanaan tatap muka di sekolah. Termasuk tetap mengikuti arahan dari Gugus Tugas Covid Sulsel.
“Tetap kita ikuti arahan satgas dan kementerian. Kita menyesuaikan itu. Kalau Sulsel awal tahun ajaran baru tanggal 13 Juli mendatang. Terkait proses belajar mengajar di sekolah kita masih menuggu arahan,” ucapnya.
Sabri menambahkan, pihaknya juga belum mendapat informasi terkait wilayah-wilayah yang bisa melaksanakan belajar tatap muka, namun sejauh ini di Sulsel wilayah yang masih dianggap bebas dari covid hanya Toraja Utara.
“Kita tidak mau gegabah, kita masih melihat situasi dan kondisi covid di Sulsel. Kita masih belum tahu wilayah mana dari 24 kabupaten kota yang masuk zona merah, kuning, orange dan hijau,” ujarnya.
Terpisah, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Ramli Rahim, mengatakan, kebijakan belajar tatap muka bisa dilaksanakan di zona hijau, kebijakan tersebut dianggap cukup baik. Meski pihak sekolah tidak boleh memaksakan kehendak dengan mewajibkan siswa untuk ikut belajar di Sekolah.
“Kita tidak tahu pemda ikut atau tidak, tapi seharusnya mengikuti. Sulsel hanya satu zona hijau, dan kalau Toraja Utara melakukan itu maka harus memperketat protokol kesehatan, tidak boleh bolak-balik masuk Toraja Utara untuk menghindari terjadinya penyebaran di Sekolah,” ucapnya.
Namun menurutnya, tidak ada hal menarik dari surat ke keputusan bersama empat menteri terkait Panduan Penyelenggaran Pembelajaran Pada Tahun Ajaran Dan Tahun Akademik Baru Di Masa Pandemi Covid-19.
Panduan tersebut adalah sesuatu yang biasa saja dan tak menyentuh masalah utama yang dihadapi selama empat bulan belajar dari rumah.
“Memang ada hal baik bahwa pemerintah tak memaksakan tatap muka tetapi tentu saja solusi lebih baik jauh lebih diharapkan,” tuturnya.
Anggota Dewan Pendidikan Sulsel ini menambahkan, tidak ada agenda khusus bagaimana menyiapkan guru agar mampu menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara menyenangkan dan berkualitas, tak ada langkah-langkah kongkrit kemdikbud dan kemenang dalam memberikan solusi terhadap minimnya kemampuan guru dalam menyelenggarakan PJJ.
Hampir bisa dipastikan dominan pembelajaran tanpa tatap muka, maka kemdikbud dan kemenag harusnya lebih rinci membahas solusinya dalam PJJ lengkap dengan solusi atas semua masalah dalam tiga bulan PJJ.
“Apa yang akan dilakukan kemdikbud terhadap lebih dari 60 persen guru yang tak memiliki kemampuan penguasaan teknologi, apa yang akan dilakukan kemdikbud terhadap lebih dari 15 persen guru yang menyelenggarakan PJJ tapi membuat siswanya stress,” tegasnya.(nug)

