JAKARTA, BKM — Saat ini, dampak dari resesi mulai menjalar terutama ke sektor keuangan.
Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, mengatakan, sektor keuangan sangat rentan dengan resesi ekonomi ini. Terutama yang perlu dikuatirkan adalah melonjaknya kredit macet.
”Yang perlu dikuatirkan adalah ledakan kredit macet yang sistemik dan berpengaruh terhadap kepercayaan nasabah perbankan dan investor. Kalau itu sampai terjadi, tentu efeknya pemulihan ekonomi butuh waktu sangat lama untuk rebound,” ujarnya seperti dikutip dari salah satu media, Senin (9/10).
Menurutnya, saat resesi ekonomi terjadi maka sektor perbankan adalah salah satu yang rentan tertekan terlihat dari turunnya laba khususnya dari pendapatan kredit, dan ancaman naiknya NPL pasca relaksasi kredit berakhir. Sebab, tidak semua debitur mampu melunasi kewajibannya meski sudah diberikan keringanan waktu pelunasan.
”Apakah semua bank siap dengan pencadangan yang cukup? Saya ragukan itu,” kata dia.
Adapun, profil risiko lembaga jasa keuangan telah mengalami peningkatan pada Agustus 2020 tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 3,22 persen sementara pada triwulan II 2020 sebesar 3,11 persen.
Selain itu, ia menilai faktor lainnya yang menyebabkan sektor keuangan sangat rentan adalah dana asing yang mulai masuk ke Indonesia tapi lebih berkaitan dengan Biden Effect atau kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS. Sentimen ini dinilai hanya akan berlangsung sementara.
”Jadi penguatan kurs rupiah dan IHSG lebih disebabkan faktor eksternal. Waspadai capital outflow jika fundamental ekonomi kembali memburuk,” jelasnya.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso sebelumnya mengatakan ketahanan sektor jasa keuangan saat ini dalam kondisi baik dan terkendali, dilihat dari sisi rasio permodalan dan likuiditas yang memadai serta profil risiko yang terjaga. (int)

