MAROS, BKM — Warga Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Maros, tak kuasa meluapkan kegembiraannya. Menyusul kedatangan Bupati Maros, Hatta Rahman bersama rombongan di desa itu untuk meninjau sekaligus meresmikan penampungan air bersih di sejumlah titik.
Bagi warga, penyediaan air bersih yang diwujudkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros, tak ubahnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Betapa tidak, selama berpuluh-puluh tahun mereka terpaksa harus membeli air bersih saat kemarau, karena tidak adanya sumber air di wilayah itu.
”Andaikan bisa saya sujud di kakinya bapak bupati, karena kami sangat senang sekali sudah ada sumber air bersih untuk kami di sini. Dari lahir sampai sekarang, belum ada satu pun pemerintah yang mewujudkan mimpi kami di sini,” kata seorang warga, Sari Banong, Selasa (10/11).
Selama ini kata dia, warga harus mengeluarkan uang minimal Rp 20 ribu rupiah perhari hanya untuk menutupi kebutuhan air bersih untuk masak dan minum. Sementara untuk mandi dan mencuci, mereka terpaksa menggunakan air empang yang rasanya payau dan keruh.
“Saya pak itu paling sedikit Rp20 ribu per hari untuk beli air saja. Sedangkan penghasilan saya ini tidak jelas, karena tidak ada suami. Air yang kita beli itu untuk masak dan minum saja. Kalau mandi dan mencuci kita pakai air empang dicampur air tawar begitu,” sebutnya.
Sementara itu, Hatta Rahman menjelaskan, penampungan air bersih yang ada saat ini merupakan tahap awal dan ujicoba. Ke depannya, Pemkab akan menambah lokasi penampungan air di kecamatan yang memang selalu menjadi langganan krisis air bersih saat kemarau.
”Ini baru tahap awal. Makanya, kita buat baru delapan titik dulu di beberapa desa dan kelurahan. Nantinya kita akan kaji lagi untuk ditambah titiknya di semua lokasi yang memang menjadi langganan krisis air bersih setiap tahun,” katanya.
Hatta Rahman mengakui, program pengadaan air bersih untuk wilayah pesisir ini sudah dilakukan selama dua kali oleh Pemkab. Namun selalu gagal. Sehingga harus dilakukan perencanaan ulang. Mulai dari pengambilan sumber air di Bantimurung melaui PDAM hingga penyaringan di Pacelle.
”Jadi program ini sudah beberapa kali kita lakukan upaya untuk pengadaan air bersih di lokasi ini. Tapi memang selalu gagal. Mudah-mudahan yang ini berhasil dan bisa dinikmati selama-lamanya oleh warga kita di sini,” lanjutnya.
Program pengadaan air bersih oleh Pemkab Maros ini, dilakukan dengan cara menyiapkan tandon berkapasitas 3.300 liter yang air bersihnya diambil dari dua lokasi berbeda, yakni di Balitkanta dan juga Balitjas. Agar bisa teraliri, Pemkab juga harus memasang pipa sepanjang 17 kilometer dari sumur utama ke tandon-tandon itu.
”Alhamdulillah Balitjas dan Balitkanta melalui kementeriannya sudah menghibahkan tanah yang kita pakai sebagai sumber air itu untuk Pemkab Maros. Jadi ini kita pasang 17 kilometer pipa dari dua titik suplai air itu ke tandon ini,” sebutnya.
Selain akan menambah jumlah tandon, ke depannya kata dia, Pemkab juga akan merancang proses pendistribusian air bersih itu ke warga. Apakah akan diserahkan ke pemerintah desa atau akan diserahkan ke PDAM untuk dikelola.
”Jadi sisa perencanaan distribusinya dan maintenancenya. Apakah diserahkan ke desa atau PDAM yang akan mengelola. Nah, kalau program ini berjalan baik, kita akan lakukan juga di kecamatan lain yang juga mengalami krisis air bersih,” pungkasnya. (ari/c)
Kesulitan Warga Pajukukang Akhirnya Teratasi
Hatta Rahman Resmikan Penggunaan Penampungan Air Bersih
×

