MAROS, BKM — Kasus penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Kabupaten Maros dalam kurun waktu satu bulan, mengalami kenaikan cukup drastis. Tercatat sejak akhir November hingga saat ini, warga yang terpapar Covid-19 berkisar 54 orang.
Dari sekitar 54 yang terpapar Covid tersebut, beberapa orang di antaranya memilih melakukan isolasi mandiri di rumah. Dan beberapa orang lainnya menjalaninya di hotel.
Juru Bicara Tim Penanganan Covid-19 Kabupaten Maros, Syarifuddin, mengatakan, salah satu alasan warga menjalani isolasi mandiri di rumah, dikarenakan hotel untuk warga yang menjalani isolasi mandiri sudah penuh.
Pasalnya saat ini, pemerintah provinsi hanya menunjuk dua hotel untuk isolasi mandiri. Sementara pasien Covid dalam beberapa pekan terakhir mengalami kenaikan drastis. Dia memperkirakan, dikuranginya hotel tempat isolasi mandiri karena beberapa waktu lalu, jumlah pasien Covid di Sulsel telah berkurang.
”Memang banyak yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Kalau pun mereka ingin dirujuk ke hotel untuk isolasi mandiri, juga tetap harus antre. Karena hotel tujuan tempat isolasi mandiri juga sudah full. Pemprov hanya menyediakan dua hotel untuk isolasi mandiri. Mungkin karena beberapa waktu lalu, memang pasien covid mengalami penurunan. Untuk dari daerah Maros saja, ada sekitar enam orang pasien Covid yang menanti giliran dirujuk ke hotel untuk isolasi mandiri,” terangnya.
Sejauh ini, kata pria yang biasa disapa Syarif, dari 54 pasien Covid yang terpapar dalam kurun waktu sepekan, 10 di antaranya merupakan anggota Polres, serta 13 orang lainnya merupakan tahanan Polres Maros. Selebihnya merupakan hasil tracking dan kontak erat dengan pasien Covid-19.
”Ada beberapa aparat kepolisian yang terpapar Covid. Berdasarkan data kami, mereka ini terdiri dari anggota kepolisian di Polres Maros dan beberapa bertugas di Polsek,” jelasnya.
Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Plt Kadinkes) Kabupaten Maros ini, meningkatnya pasien Covid-19 ini karena saat ini banyak masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan.
Banyaknya perhelatan pernikahan dan kegiatan lainnya bisa menjadi pemicu lonjakan pasien Covid.
Seharusnya kata dia, saat melaksanakan perhelatan pernikahan ataupun kegiatan lainnya, pihak penyelenggara bertanggung jawab untuk tidak melaksanakan prasmanan. Namun dikemas dalam nasi kotak. Hal ini dianggap sangat efisien untuk menekan angka peningkatan warga yang terpapar Covid-19.
”Masyarakat masih perlu diberikan edukasi terkait wabah ini. Karena beberapa bulan terakhir, masyakat mulai lengah dan tidak lagi memperhatikan protokol kesehatan dengan jaga jarak, menggunakan masker, dan menggunakan hand sanitizer atau cuci tangan dengan sabun,” jelasnya. (ari/b)

