GOWA, BKM — Anomali cuaca ekstrem yang diperkirakan puncaknya terjadi pada Desember 2020 dan Januari 2021 berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) adalah akibat dari Lanina.
Karena Lanina itu, maka diprediksi mengakibatkan beberapa wilayah dataran rendah di Kabupaten Gowa mengalami banjir dan genangan air.
Sementara beberapa wilayah dataran tinggi Gowa akan mengalami longsor.
Karena itu, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan pun mengimbau masyarakat Gowa untuk meningkatkan kewaspadaan dalam kondisi cuaca yang mulai ekstrem saat ini.
“Masyarakat harus selalu waspada. Hujan deras dan angin kencang berpotensi menimbulkan pohon tumbang dan longsor. Saya juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan agar saluran-saluran air tidak tersumbat. Mari kita bersama-sama menjaga itu. Kalau terlihat ada saluran air tersumbat, mari kita sama-sama segera memperbaiki sebelum membuat genangan,” imbau Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gowa Ikhsan Parawansyah, kepada BKM, Sabtu malam (19/12), mengatakan, dari 18 kecamatan di Gowa, ada 9 kecamatan dataran rendah yang sangat rentan dengan angin kencang dan banjir.
Sementara 9 kecamatan lainnya adalah dataran tinggi yang sangat rentan dengan gerakan tanah (longsor), Karhutla, dan angin kencang.
”Inilah yang mesti kita (masyarakat Gowa) selalu waspadai. Menyangkut titik longsoran ini juga sangat berpengaruh dengan intensitas curah hujan di dataran tinggi dan kondisi morfologi wilayahnya termasuk kondisi tanah vegetasinya.
”Jadi kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang cukup ekstrem ke depan ini,” kata Ikhsan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Gowa, Gandamana Matondang, yang dikonfirmasi terkait potensi Lanina di Desember 2020 hingga Februari 2021, Sabtu malam, mengatakan, Lanina merupakan fenomena atmosfir. Dimana, terjadi penurunan suhu muka air laut di Samudra Pasifik dan pertumbuhan awan konvektif yang menimbulkan hujan dan rata-rata naik 20 sampai dengan 40 persen dari tahun yang lalu serta puncaknya sampai dengan Februari dan diprediksi luruh pada Maret hingga April 2021 mendatang.
Karena itu, Gandamana pun mengimbau agar masyarakat waspada terhadap banjir, banjir bandang maupun longsor yang merupakan bencana hidrometeorologi. Semua ini merupakan dampak dari penambahan curah hujan akibat fenonena Lanina saat ini.
”Kesiapan masyarakat yang terpenting adalah selalu menjaga drainase lingkungan serta kesiapsiagaan setiap instansi terkait baik di pemerintah daerah maupun instansi lainnya untuk saling berkoordinasi dalam penanggulangan banjir demi kepentingan bersama dan manfaatnya untuk masyarakat juga,” kata Gandamana via WhatsApp.
Gandamana juga mengatakan untuk kondisi cuaca setiap hari terus diupdate apalagi saat hujan dengan intensitas yang tinggi. ”Akan kami infokan dan selalu koordinasi dengan BMKG,” jelasnya. (sar)

