GAJI atau insentif yang diterima Aswan tergolong lumayan dari Pemerintah Kota Makassar. Setiap bulan ia menerima gaji Rp2.350.000. Hanya saja, gaji itu bisa terkuras jika harus membiayai motor Fukuda yang ia kendarai rusak.
Laporan: JUNI SEWANG
Memang kata Aswan, ada bengkel gratis yang ditunjuk Pemkot Makassar. Hanya saja, lokasinya jauh dari tempat kerjanya yang berada di Jalan AP Patta Rani III.
“Sekarang yang bikin pusing bagaimana mau bayar utang, belum lagi kalau fukuda rusak. Biasa saya bawa ke bengkel dekat rumah saja, ongkosnya uang pribadi,” keluh Aswan kepada penulis.
Ditanya kembali oleh penulis suka duka sebagai pengangkut sampah dengan kendaraan operasional milik Pemkot Makassar, Aswan memaparkan, sukanya yakni bahwa profesinya tersebut merupakan tantangan. Dimana tidak semua orang mau melakukannya.
Sedangkan dukanya yaitu ketika dirinya mengalami kendala pada kendaraan operasional yang ia gunakan, seperti pecah ban saat bekerja.
Sementara ditanya apakah dirinya tidak malu menjalani profesi tersebut, Aswan menyatakan tidak malu sedikit pun bahkan sebaliknya yaitu merasa bangga karena bisa menjadi bagian dalam kebersihan di Kota Makassar

“Saya ini bekerja setiap hari. Saya tidak malu dengan profesi ini karena saya tidak memiliki keahlian lain, ya mau tidak mau. Intinya saya tidak malu dengan profesi saya ini,” terang Aswan.
Sedangkan khusus untuk fasilitas keamanan selama masa Pandemi ini, tempat ia bekerja juga memfasilitasinya, seperti memberikan masker, anti septik dan kaos tangan gratis.
Kita akui, selama ini keberadaan petugas kebersihan masih dipandang sebelah mata, padahal tugas mereka sangat mulia dalam memerangi sampah yang ada di ruas jalan hingga di dalam lorong-lorong. Seadainya Pemerintah Kota Makassar meminta petugas kebersihan untuk bekerja dari rumah, maka sudah pasti sampah-sampah akan menumpuk.
Menumpuknya sampah, tentunya akan menyebabkan lingkungan menjadi tercemar sehingga mengakibatkan munculnya wabah penyakit baru selain covid-19.
Malahan mereka bisa menjadi bulan-bulanan makian dari warga, jika petugas kebersihan lambat mengangkut sampah. Sementara jika gajinya terlambat tak satupun warga yang datang memberikan bantuan ke mereka.
Tenaga kontrak di Kecamatan Tallo ini, hingga Maret belum menerima gaji.Hal itu membuat Aswan pontang panting mencari uang untuk membiayai kehidupan keluarganya.
Aswan bahkan terpaksa mengutang ke kerabatnya.”Saya akhirnya berutang dulu dek’, soalnya belum terima gaji. Utang saya Rp2 juta dan harus diansur setiap bulan Rp400 ribu. Saya terus menerus ditagih untuk membayar utang tersebut hingga nilainya dua kali lipat dari pinjaman,”ujar Aswan kepada penulis.
Ia mengakui, telah dua tahun bekerja sebagai petugas kebersihan, selama ini hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp2.350.000 tiap bulan dan terkadang tidak full yang ia terima. Terkadang gajinya dicicil oleh pihak keuangan.(*)

