MAKASSAR, BKM–Partai politik sebaiknya juga terlibat dan ikut meluangkan waktunya membahas soal pencegahan radikalisme agar pemuda tidak masuk dalam kategori terorisme.
Hal itu disampaikan Dr Arqam Azikin dalam diskusi publik dengan tema ‘Lawan Radikalisme dengan Memperkuat Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Sulsel’ di RM Torani Makassar, Sabtu (17/4) petang.
Terkat peran partai politik islam dalam percegahan radikalisme, Arqam menyindir tak hanya kepada partai islam, namun hampir semua parpol tak punya visi yang jelas untuk pencegahan radikalisme.
“Saat dewan turun kebawah, paling bicara perda hingga program infrastruktur, namun haruslah selipkan soal radikalisme yang sumbunya ada di daerah bukan di Jakarta,”jelas Arqam.
Soal ketahanan negara, Arqam mengakui radikalisme itu sudah sejak lama dibahas. Menurutnya radikalisme muncul diakibatkan banyak hal seperti karena pemahaman agamanya sepotong sepotong, bisa karena ekonomi hingga soal kemiskinan. “Terorisme tak bisa tuntas karena tak pernah ada kerjasama dari lembaga yang kuat dan terstruktur,” jelasnya.
menurut Arwam, masing-masing lembaga jalan sendiri, bahkan ada yang hanya memantau dan siap diperbantukan. Termasuk pembahasan di komisi I DPR RI sampai sekarang belum tuntas.
Sebelumnya, Ketua forum komunikasi pencegahan terorisme (FKPT) Sulsel Dr Muammar Bakri mengulas tumbuhnya radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme di ranah air.
Untuk itu, Muammar berharap bagaimana mempersempit ruang kelompok radikal. Salah satu langkah yang dilakukan FKPT Sulsel dengan memproteksi radikalisme agar tidak terlalu menyimpang.
“Kegiatan FKPT lebih pada pencegahan agar kegiatan masyarakat tidak lagi terserang virus radikal. FKPT menyasar sejumlah elemen pemuda, tokoh dan lainnya,” ujar Muammar.
Muammar berharap semua pihak harus perkuat pada ideologi secara komunal seperti yang ada di NU, Muhammadiyah dan ormas lainnya.
Ketua Perhimpunan Ummat Budha Yongris juga bicara soal agama dalam konteks perdamaian dan rahmat bagi sesama. Menurut Yongris, hal ini terjadi karena pemahaman agama yang salah.
Untuk itu, pemahaman agama juga harus diperbaiki.”Banyak masalah bisa diselesaikan dengan agama sebab radikal itu urusan pribadi. Yang salah jika menimbulkan ketakutan atau ancaman bagi orang lain. Ini yang jadi masalah,” ucap Yongris.
Jadi yang patut dicegah adalah agar sifat radikal seseorang itu tidak menjadi teroris ini yang terus dicegah.
Bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi juga harus kecerdasan mental. “Untuk memcerdaskan sisi kehidupan, maka kita harus membangun ahlak yang benar,” terangnya.
Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulsel Abdul Gafur Ibrahim mengemukakan selaku generasi muda perlu meningkatkan toleransi. (rif)

