MAKASSAR, BKM — Dampak dari pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di masa pandemi covid-19, membuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan III 2021 menurun drastis.
Sulsel hanya mampu membukukan perekonomian sebesar 3,24 persen (yoy) pada triwulan III. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,66 persen (yoy).
Untuk pertama kalinya selama sekian tahun, pertumbuhan ekonomi berada di bawah rata-rata nasional.
Namun, menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Causa Iman Karana, menambahkan, seiring dengan meredanya kasus covid-19, aktivitas ekonomi masyarakat juga akan kembali meningkat.
Bank Indonesia bersama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya akan terus bersinergi untuk mendorong pemulihan ekonomi Sulsel.
Peningkatan akses keuangan juga terus diupayakan oleh Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) melalui pemberian kemudahan akses pembiayaan, khususnya untuk para pelaku UKM. Percepatan digitalisasi finansial pun terus dilakukan oleh Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
“Kita harap membaik di masa recovery saat ini,” tukas Causa, di salah satu warkop, kemarin.
Sementara itu, Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi Mikro dan Advisor BI Sulsel, Fajar Mardjadi, menambahkan PPKM di Sulsel lebih lama sebulan dibanding daerah lain. Pembatasan kegiatan masyarakat mengakibatkan perekonomian juga melemah.
“Pengaruh utama karena PPKM. Perekonomian kita direm. Kalau tidak direm, akan lebih buruk lagi. Implikasinya perekonomian kita juga turun di triwulan III,” ujarnya.
Namun menurutnya, hal tersebut tak hanya terjadi di Sulsel. Daerah lain pun begitu. Penurunan secara nasional juga terjadi.
Ekonomi nasional pada triwulan yang sama hanya tercatat 3,51 persen setelah sebelumnya mencapai 7,07 persen.
Untungnya, pertanian Sulsel tumbuh bagus. Hal tersebut jadi sektor pendukung perekonomian bisa kembali bergairah.
Kemudian sektor kehutanan, dan perikanan yang tumbuh sebesar 7,85 persen (yoy) dan memiliki pangsa sebesar 24,52 persen terhadap total PDRB Sulsel. Pertumbuhan didorong oleh peningkatan produksi beberapa komoditas perkebunan, antara lain, kelapa sawit, kopi, kakao, tebu, maupun peningkatan produksi sentra budidaya perikanan dan perikanan tangkap.
Selanjutnya, pertambangan tumbuh sebesar 3,61 persen (yoy) dengan pangsa sebesar 4,81 persen terhadap PDRB. Pertumbuhan didorong oleh peningkatan kinerja pertambangan bijih logam.
Berdasarkan komponen pengeluaran, peningkatan net ekspor juga menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi Sulsel. Pada periode Januari-September 2021, total nilai ekspor Sulsel meningkat 12,96 persen (yoy) sedangkan total nilai impor menurun 20,36 persen (yoy).
Peningkatan ekspor didorong meningkatnya permintaan negara mitra dagang, termasuk untuk komoditas besi dan baja.
Sementara itu, dampak dari PPKM mengakibatkan penurunan pada beberapa kelompok pengeluaran seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi.
Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 1,03 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,96 persen (yoy).
Penurunan konsumsi rumah tangga terjadi pada pada subkomponen makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, transportasi, komunikasi, rekreasi, dan penyediaan makan minum. (rhm)

