MENGAJARKAN bahasa Indonesia kepada peserta didik ternyata tidaklah mudah. Terutama untuk pembelajaran daring di tengah pandemi covid-19. Butuh inovasi dari guru agar siswanya tidak cepat bosan, tapi merasa senang mengikuti pelajaran. Seperti yang dilakukan Rahmini.
RAHMINI adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Makassar. Ia hadir di studio podcast Berita Kota Makassar, Selasa (28/12). Magister pendidikan ini ternyata telah mengukir sejumlah prestasi. Terakhir adalah Juara II Guru Inspiratif Kota Makassar 2021 Kategori ASN.
Di awal penjelasannya, Rahmini mengaku tidak pernah sama sekali berpikir untuk mengikuti lomba yang dilaksanakan Dewan Pendidikan Kota Makassar itu. Karena pada waktu bersamaan, ia sementara mengikuti pendidikan untuk calon guru penggerak. Banyak tugas-tugas yang mesti dikerjakannya.
”Kalau untuk berkas perlengkapan persyaratan untuk mendaftar, sudah banyak yang tersedia. Suami kemudian memberi dukungan. Katanya, untuk apa banyak sertifikat, banyak buku baru tidak ikuti lomba ini. Dia kemudian membantu mengumpulkan portofolio, dan akhirnya saya mendaftar,” terang Rahmini.
Salah satu yang menjadi pendukung Rahmini dalam ajang ini adalah kemampuannya menghasilkan buku. Saat datang ke kantor BKM didampingi suaminya, ia membawa tujuh buah buku. Masih ada yang lain tidak dibawanya. Ia lalu berkisah awal mula dirinya membuat buku.
”Awalnya saya membaca di medsos tentang guru bisa menghasilkan buku. Di situ saya kemudian berpikir bagaimana caranya supaya saya juga bisa menghasilkan buku. Kebetulan lewat medsos juga ada informasi tentang pelatihan Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku). Saya kemudian mengikuti pelatihan itu,” tuturnya.
Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Usai pelatihan, Rahmini pun berhasil membuat buku pertama. Judulnya; Mencintai Bahasa Indonesia. Buku ini merupakan rangkuman buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas tujuh.
”Saya sengaja merangkum beberapa buku supaya anak-anak bisa lebih memahami dibanding mereka mempelajari buku yang tebal. Dengan merangkum materi yang ada, mereka bisa lebih mudah belajar dan paham,” jelasnya.
Mampu menghasilkan buku pertama diikuti dengan buku kedua. Kali ini terkait lingkungan. Karena pada saat itu sekolah tempat Rahmini mengajar tengah mengikuti penilaian Adiwiyata tingkat provinsi. Dia diminta untuk menyiapkan RPP yang berbasis lingkungan.
Berkolaborasi dengan siswa di sekolahnya, lahirlah buku karya yang dihimpun dari tugas siswa yang berhubungan dengan lingkungan. Buku ini berisi pidato dan cerita, yang merupakan karya terbaik peserta didik.
Di tahun 2018, Rahmini mengikuti pembimbingan untuk mengikuti ajang lomba inovasi pembelajaran. Ketika itu dia harus memilih antara membuat buku pertama dan mengikuti lomba inovasi pembelajaran.
”Karena mimpi saya waktu itu bisa memiliki buku, akhirnya saya memilih untuk menyelesaikan buku pertama dan karya inovasi tidak selesai. Tapi tidak ada yang sia-sia kalau kita mau berusaha. Setelah buku selesai, saya kemudian menyelesaikan karya tulis saya,” jelasnya.
Di tahun 2019 Rahmini mengikuti lomba Olimpiade Guru tingkat Kota Makassar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Juara satu disabetnya. Atas prestasinya, Rahmini didaulat mewakili Kota Makassar ke tingkat provinsi. Juara satu kembali diraih. Dia pun menjadi finalis mewakili Sulsel ke tingkat nasional.
Walau sebatas finalis ketika itu, Rahmini bisa mendapatkan hikmah. Sebab dirinya diminta untuk membuat draft karya tulis. Akhirnya, karya tulis yang telah diselesaikan sebelumnya, ditampilkan di ajang tersebut.
Di tahun 2020 kala pandemi melanda negeri ini, terbersit di pikiran Rahmini, bagaimana agar karya tulisnya yang selama ini hanya ada di perpustakaan, tidak ia jadikan buku. Apalagi, ketika itu ada sebuah pelatihan mengubah karya tulis menjadi buku. Rahmini kemudian mendaftar dan mengikuti, hingga akhirnya menghasilkan buku lagi.
Menyusul kemudian buku antologi yang dihasilkan Rahmini bersama siswanya. Judulnya Hikmah di Balik Goresan Cerita. ”Waktu itu pelajaran kelas sembilan ada tema cerita inspiratif. Karena pandemi, saya kemudian mengarahkan anak-anak untuk membuat cerita yang berhubungan dengan covid-19. Begitu juga ketika mengajar di kelas tujuh, ada cerita fabel tentang binatang. Saya mengarahkan siswa membuat cerita fabel yang ada kaitannya dengan covid-19. Dari situlah kemudian dibuat lagi menjadi buku,” jelasnya.
Dari tiga buku yang telah dihasilkannya, diakui Rahmini belum ada satupun yang bernuansa sastra. Keinginannya menghasilkan buku jenis ini kembali mencuat. Lagi-lagi, dia membaca dan mendapat informasi di medsos bahwa ada pelatihan membuat puisi. Rahmini pun ikut. Hingga akhirnya menghasilkan Sajak-sajak Kerinduan Filosofi Rindu. Berisi tentang kerinduan kepada orang tua, sahabat dan orang yang disayangi.
”Buku yang saya hasilkan semuanya sudah ber-ISBN. Ini juga masuk penilaian saat ikut lomba guru inspiratif,” imbuhnya.
Selain buku, penilaian lain dalam lomba ini adalah best practise. Rahmini menyusun model pembelajaran berjudul Penerapan Metode Tim Bicara Berbantuan Video dan Kartu Kerja. Inovasi ini diakuinya sederhana, namun efektif mengajak siswa untuk lebih senang belajara Bahasa Indonesia.
”Diawali ketika memberi materi pelajaran bercerita. Siswa sudah dibentuk berkelompok. Diberi media cerita dan bentuk teks. Tapi setelah diberi waktu beberapa lama, ternyata yang bisa tampil bercerita hanya beberapa kelompok saja. Masih ada kelompok yang belum bisa. Alasannya belum hafal. Kalau mau diikuti, satu atau dua kali pertemuan baru bisa selesai. Itupun kalau anak-anak sudah hafal baru bisa tampil,” ujarnya memberi alasan menciptakan inovasi.
”Dari situ saya berpikir, kalau berkelompok hanya sebagian saja yang aktif bekerja. Ada saja yang pasif. Saya kemudian pilih tim yang bicara. Kelompoknya diisi siswa yang heterogen. Semua harus berpartisipasi aktif agar timnya berhasil. Jadi harus ada kerja sama. Anak-anak bisa bekolaborasi dan betul-betul bekerja sama. Yang pintar dan tinggi pemahamannya bisa membantu temannya memahami,” jelasnya lagi.
Selanjutnya, kata Rahmini, video. Karena anak-anak senang nonton video dan kebetulan materinya tentang fabel. Jika peserta didik disuruh membaca teks, akan lebih cepat bosan. Mereka lebih suka menonton video. Sementara banyak video tentang fabel di Youtube.
”Anak-anak bisa memilih mana yang mereka sukai dan mengunduh. Saya kemudian menggunakan kartu kerja sebagai pengganti LKS. Karena kalau pakai LKS, mereka biasanya cuek. Hanya beberapa orang saja yang perhatikan,” ungkapnya.
Kartu kerja ini terdiri dari tiga bagian. Masing-masing menonton video, memahami peristiwa yang ada dalam cerita sambil siswa mencatat, dengan menampilkan menampilkan pertanyaan pemandu yang berhubungan dengan Adik Simba (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). ”Apa judulnya bisa dicatat. Siapa saja tokohnya. Kapan kejadiannya. Bagaimana jalan ceritanya,” terangnya.
Setelah siswa menghafalkan di kelompoknya, baru tampil bercerita. Usai itu kelompok lain memberi penilaian,” tandasnya. (*/rus)

