BICARA tentang kopi, pasti hampir semua orang begitu familiar dengan komoditi satu ini. Penikmatnya tidak mengenal usia. Mulai dari kalangan remaja, dewasa, hingga tua jompo, baik leaki maupun perempuan.
Meski pahit, tapi kehadirannya selalu dirindukan. Apalagi bagi mereka yang merokok. Bahkan, kopi ini dipercaya bisa untuk mengobati luka berdarah pengganti obat merah saat sedang darurat. Juga bisa mencegah anak balita mengalami kejang-kejang saat suhu tubuhnya sedang naik.
Karenanya, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki tanaman kopi. Dan ini menjadi brand bagi daerah tersebut. Di Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, ada namanya kopi Toraja dari Kabupaten Tana Toraja dan kopi Kalosi dari Kabupaten Enrekang.
Di Provinsi Sulawesi Barat ada namanya kopi Mamasa dari Kabupaten Mamasa. Di Provinsi Sumatera Utara, ada kopi Lintong, Tarutung, dan kopi Sidikalang. Sedangkan di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, ada namanya kopi Muncar.
Meski hampir semuanya berasal dari jenis kopi yang sama, seperti Arabica dan Robusta, namun ketika ditanam di tempat berbeda, akan menghasilkan citarasa tersendiri. Untuk memudahkan penamaannya, biasanya mengambil nama daerah tempat kopi tersebut ditanam.
Untuk menghasilkan produk kopi yang baik, maka tentu harus dilakukan 

Kesejahteraan Masyarakat Meningkat
Menyebut nama Muncar, tentu pikiran akan tertuju ke sebuah desa di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Yah, Desa Muncar merupakan satu dari 14 desa yang dibina Astra melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA) Temanggung.
Desa ini terletak di dataran tinggi Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prau. Posisinya yang terletak di dataran tinggi, mendorong masyarakat setempat untuk untuk mengembangkan tanaman kopi. Desa ini menghasilkan kopi jenis robusta yang sekarang telah dikenalkan ke Negeri Kincir Angin, Belanda.
Kopi yang dikembangkan di Desa Muncar konon bibitnya adalah peninggalan dari Belanda. Jadi sekitar tujuh kilometer dari Desa Muncar, ada perkebunan kopi yang dulunya dikelola Belanda. Bibit kopi dari perkebunan tersebut kemudian menyebar hingga akhirnya sampai ke Muncar ini.
”Kualitas dari kopi peninggalan Belanda ini terbilang bagus. Maklumlah orang Belanda. Sebelum menanam kopi, tentunya mereka telah melakukan penelitian untuk mengetahui kondisi tanah yang akan ditanami kopi. Apakah kopi yang akan ditanam di lahan tersebut cocok atau tidak,” tutur salah seorang perajin kopi di Desa Muncar.
Kualitasnya yang bagus menjadikan kopi ini memiliki harga tinggi. Sehingga praktis membuat pendapatan petani setempat jadi ikut meningkat. Bayangkan, kopi Muncar di negeri Belanda dihargai sebesar lebih dari Rp40.000 per kilogram. Sedangkan harga ditingkat petani hanya Rp26.000 per kilogram.
Saat ini, pendapatan petani di Desa Muncar dari hasil menanam kopi mencapai Rp30 juta pertahun. Suatu angka yang cukup tinggi jika dibandingkan pendapatan mereka saat hanya mengandalkan dari mengumpulkan kayu.
Kini mata pencaharian masyarakat Muncar sudah beragam. Seperti dari sektor pariwisata, ekonomi kreatif, agrikultur dan olahan, peternakan, serta perikanan. Keberhasilan yang diraih masyarakat petani di Desa Muncar dan sekitarnya hingga bisa seperti saat sekarang, tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Sofiyudin Achmad. Dia adalah tokoh penggerak DSA Temanggung.
Bagi Sofiyudin Achmad, salah satu tekadnya adalah mengangkat martabat Temanggung melalui DSA. Dengan kemauan dan kerja keras warganya ditambah dukungan Astra, masyarakat DSA Temanggung kini mulai memproduksi kopi dengan berbagai varian.
Kolaborasikan Kopi dan Wisata
Perhatian pemerintah yang kini menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu andalan dalam meraih devisa, juga tidak luput dari perhatian Sofiyudin Achmad. Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2017 tingkat provinsi bidang lingkungan ini berhasil mengkolaborasikan antara kopi yang kini menjadi ikon DSA Temanggung dengan potensi wisatanya.
Hasil kolaborasinya menghadirkan desa wisata perkebunan berbasis kopi dan agrowisata budaya. Sofiyudin mengakui, para penduduk dan fasilitator juga mulai mengelola berbagai sumber daya alam.
Misal Curug Lawe yang terkenal dengan hutan tropisnya. Begitu pula Lembah Blawong, tempat yang tepat untuk menikmati matahari pagi sembari memandang gunung-gunung yang berjajar dengan rapi.
Budidaya kopi Muncar, sebagai salah satu potensi desa, mulai mengalami kenaikan signifikan. Selain kopi, produksi penganan lain yang kini dikembangkan warga Muncar, seperti minuman gula semut jahe, berbagai keripik seperti keripik pisang, keripik debok, keripik daun kopi, dan keripik talas. Sementara untuk komoditas lainnya, ada vanili, cengkeh, kemukus, aren, dan pisang tanduk.
Untuk makin mengenalkan Desa Muncar sekaligus mendorong anak-anak muda agar bersedia meluangkan waktunya mengunjungi Desa Muncar, maka dibangun sebuah jembatan yang diberi nama Jembatan Sawah.
Jembatan ini adalah salah satu ikon DSA Temanggung yang merupakan kontribusi dari Astra. Kedatangan anak-anak muda ini ke Desa Muncar, tidak lagi sekadar berkunjung. Tapi mereka juga memperkenalkan dan mempromosikan kopi sebagai produk utama Desa Muncar.
”Kehadiran landmark ini tidak hanya menjadi sarana advertising branding selling selfi. Tapi landmark ini menjadi sarana untuk kreatif hub. Bagaimana landmark telah menarik anak-anak muda datang berkunjung ke sini untuk saling belajar menjadi adanya transformasi informasi, transformasi knowledge, transformasi IT, bahkan ada tranformasi community development. Jadi ketika para generasi milenial datang ke Muncar itu tidak sekadar untuk berekreasi. Kami dari keluarga besar Astra DSA Temanggung menyampaikan terimakasih kepada Astra yang terus memotivasi kami, memberi inspirasi dan mendorong kami untuk terus senantiasa bergerak, berkembang menuju ke arah lebih baik,” tutur
Sofiyudin.
Sejalan Cita-cita Astra
DSA merupakan kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang fokus pada pemberdayaan kewirausahaan ditingkat desa sesuai potensi desa masing-masing. Warga desa diberikan pendampingan mulai dari pelatihan, bantuan prasarana, hingga fasilitas modal dan pemasaran produk. Bahkan di antaranya sampai ke pasar ekspor.
Dukungan Astra untuk DSA Temanggung telah mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika sebelumnya pendapatan penduduk hanya bersumber dari pengumpulan kayu. Kini masyarakat memiliki mata pencaharian beragam. Seperti dari sektor pariwisata, ekonomi kreatif, agrikultur dan olahan, serta peternakan dan perikanan.
Sejak dibina Astra tahun 2018, jumlah masyarakat masyarakat yang menikmati program DSA hingga tahun 2021 mencapai 5.500 orang dari hanya sekitar 200 orang pada tahun 2018. Begitu pula penyerapan tenaga kerja di tahun 2021, mengalami peningkatan enjadi 80 orang dari semula hanya 20 orang pada tahun 2018.
Pada 2020, Astra bersama masyarakat mulai memperluas produk turunan dan menggencarkan promosi kopi baik secara daring (online) maupun luring (offline). Pada 2021, dilakukan perluasan buyer kopi beragam rasa, promosi dan penjajakan ekspor kopi ke Belanda hingga memperluas DSA dan mitra
binaan dari awalnya 3 desa pada 2018 menjadi 14 desa di 2021.
Secara keseluruhan hingga 2021, Astra telah memaparkan berbagai program melalui 930 DSA kepada sekitar 104.311 orang di seluruh Indonesia, menciptakan tenaga kerja baru sebesar 16.345 orang, dan meningkatkan pendapatan rerata sebesar 70 persen di seluruh Indonesia.
Hingga kini terdapat 4 klaster produk yang dihasilkan DSA, yakni klaster kopi, klaster agrikultur, olahan dan komoditas, klaster kelautan dan perikanan tangkap, serta klaster wisata, kreatif, budaya.
Semangat Astra untuk membangun bangsa melalui DSA sejalan dengan Sustainable Development Goals Indonesia dan cita-cita Astra Sejahtera Bersama Bangsa. (amiruddin nur)

