TIDAK banyak orang yang mampu untuk setia pada satu profesi. Termasuk di dunia perfilman. Namun, Syamsul Ma’arif menjadi satu dari sedikit orang yang setia itu. Ia pun terus berusaha menyajikan hal-hal baru dalam menyajikan sebuah film.
MENGENAKAN topi yang menjadi ciri khasnya, Daeng Ancu –begitu ia akrab disapa– hadir di studio siniar (podcast) Berita Kota Makassar. Sebagai seorang filmaker, ada banyak hal yang dijelaskannya.
Memiliki latar belakang disiplin ilmu di bidang penyutradaraan, Ancu menegaskan bahwa sutradara di era sekarang tak lagi sekadar hanya tahu tentang pekerjaannya saja. Tapi harus mengetahui semua elemen kreatif yang ada di dalamnya. Mulai dari aspek teknis, seperti kamera, artistik, tata suara, bahkan sebisa mungkin menjadi seorang aktor bagi filmnya sendiri.
Ancu yang juga tenaga pengajar tentang film pada dua institusi perguruan tinggi ini, mengaku bahwa bukan hanya soal teori yang dijelaskan kepada mahasiswa. Tapi juga bagaimana mengabstraksi ide-ide lewat tubuh dan memori untuk sampai pada sebuah karya. Dirinya berusaha menjadi filmaker yang baik, yang memindahkan teori tentang tujuh elemen dalam film melalui perspektif tertentu.
Sebagai seorang yang bergelut di dunia perfilman, Ancu melihat bahwa pandemi covid-19 telah mengubah banyak kebiasaan dan bentuk-bentuk penyajian informasi. Salah satunya melalui audio visual yang menjadi bagian dari berkomunikasi.
”Bahkan, institusi dan komunitas menjadikan audio visual sebagai parameter dalam pembelajaran daring. Seperti, pelajar yang ditugaskan membuat koten. Sehingga akan tampak mudah dan mereka intim dengan audio visual,” terang Ancu.
Ia kemudian mengaitkannya dengan karya-karya film. Menurut Ancu, secara teknis semua orang bisa menghasilkan sebuah audio visual karena hadirnya teknologi. Hanya saja, di film tidak hanya memahaminya sebagai sebuah konten. Karena ada satu hal yang tidak bisa dilupakan, sebab dia produk industri. Sehingga patut dipikirkan tentang layan dan cocoknya dan bisa menyentuh pasar.
Generasa sekarang, kata Ancu, harus mulai memikirkan bahwa memproduksi sesuatu tidak hanya sekadar konten. Tapi melainkan punya visi dan misi. Tidak sekadar menjadi tontonan, tapi bisa mengedukasi dan menginspirasi.
”Begitu pula dengan film. Bukan sekarang konten, tapi juga ada impact. Ini yang penting dan perlu dilakukan,” tandasnya.
Dengan melihat perkembangan teknologi saat ini, Ancu berharap konten yang lahir bisa menginspirasi banyak orang. Hal itu sebagai bentuk kontra narasi dari konten yang dibuat bebas. Edukasi yang positif dengan memisahkan hal-hal yang buruk. ”Cara seperti ini kita harus mulai. Jangan didiamkan,” ujarnya dengan menyebut konten Podcast yang dibuat BKM menjadi bagian dari cara tersebut.
Di bagian lain wawancara, Ancu ditanya sejak kapan mulai berminat dengan dunia film. Ia menjawab bahwa dirinya bukanlah seseorang dengan daya ingat yang baik. Namun, dirinya menyebut masa kanak-kanak adalah saat-saat yang disenanginya. Karena di situ dirinya bebas berimajinasi dan menceritakan sesuatu. ”Dari situlah alawanya saya merasa cocok. Karena di sekolah saya tidak berprestasi,” akunya.
Selain itu, dulu Ancu juga sering diajak oleh ayahnya ke bioskop yang ada di Makassar. Bapaknya yang seorang wartawan kerap diundang oleh pengelola bioskop. Ketika itu ada banyak bioskop di kota ini, yang memutar film berbeda-beda. Ada bioskop yang khusus memutar film Mandarin, Hollywood, hingga India.
”Waktu itu saya sering menonton satu film sampai tujuh kali. Itu karena saya terkesima dengan hasil produksinya,” imbuhnya.
Di masa itu, sineas yang ada di Makassar sudah memproduksi film, namun belum masuk ke industrinya. Ancu pun kemudian memutuskan untuk masuk. Sejak saat itu dirinya memutuskan untuk pindah dari Makassar ke Jakarta.
Tujuannya bukan hanya untuk memahami industrinya, tapi juga kuliah guna mengetahui dasar dasar ilmu pengetahuan tentang film. ”Ketika kau mencintai sesuatu, maka profesi itu akan hidup dalam dirimu dan menginspirasi orang lain,” begitu quote yang diberikan Ancu.
Sebuah film buah karya mahasiswa Ancu berhasil mengantarkan dirinya mendunia. Kekerasan perempuan dikritisi dalam film ini. Ancu bermain di film ini setelah diminta oleh mahasiswanya. Selanjutnya dibawa ke beberapa festival. Bahkan pada dua even besar, yakni di Toronto dan Mexico menjadi film pendek terbaik.
Sebagai seorang yang sudah lama bergelut di dunia film, Ancu mencoba membentuk sebuah model daya ungkap baru lewat literature on screen. Pada tahun 2021, ia bersama rekannya di Makassar membuat film berjudul Sawerigading Na Pindakati.
”Film ini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap karya sastra lisan terpanjang di dunia dan diakui Unesco, I Lagaligo. Kami membuat bentuk penyajian baru dengan mengambil judul satu larik dari naskah I Lagaligo, yaitu Sawerigang Na Pindakati,” terangnya.
Film ini mengungkap tentang pertalian gen daerah Luwu dan Toraja. Terbentuknya Toraja dan Enrekang merupakan pertautan antara Sawerigading Na Pindakati.
”Kami mencoba memberi tawaran, kenapa selama ini produksi film kita kiblatnya ke Hollywood melulu. Sementara ada daya ungkap yang bisa kita lakukan dalam bentuk visual. Dengan cara ini, akan ada gairah baru untuk terus berkarya. Bukan hanya menjadi penonton dan mayoritas berkiblat kepada film luar,” kuncinya. (*/rus)

