MAKASSAR, BKM — Sebuah video aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah pelajar SMP negeri di Makassar beredar viral. Dalam video tersebut beberapa siswi melakukan aksi kekerasan dan penganiayaan terhadap siswi lainnya.
Seorang siswi dengan rambut pirang terlihat menarik-narik rambut siswa lainnya yang dalam kondisi duduk menunduk. Aksi itu kemudian dilerai oleh siswi lainnya.
Video tersebut tersebar cepat di media sosial dan menjadi konsumsi publik. Siswa yang melakukan aksi kekerasan tersebut ditengarai merupakan siswi SMP Negeri 21 dan SMP Negeri 13.
Tidak menunggu lama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin langsung terjun ke sekolah yang diidinasikan terlibat guna melakukan klarifikasi.
Muhyiddin menjelaskan bahwa awalnya pelajar perempuan itu hanya sebatas bercanda dan saling ejek. Mereka sepakat ingin membuat konten di media sosial (medsos). “Namun caranya yang keliru, karena adanya ketersinggungan di antara mereka,” kata Muhyiddin yang dihubungi, Selasa (11/1).
Ternyata, ada salah satu siswi yang sengaja merekam saat terjadi ribut-ribut dengan maksud menjadikannya sebuah video untuk konten di media sosial. Diapun mendamaikan kedua belah pihak secara kekeluargaan disaksikan oleh kepala sekolah, orang tua kedua belah pihak yang disaksikan pihak kepolisian dan perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar.
“Kita sudah damaikan kedua belah pihak. Jadi mulanya mereka saling canda dan saling ejek yang berakhir ketersinggungan. Saya sudah menegur dan memberikan edukasi kepada kedua belah pihak agar tidak mengulanginya lagi,” terangnya.
Muhyiddin mengaku miris dengan kejadian tersebut. Ia pun meluruskan, apa yang ditonton dan dilihat di sosial media tak seperti itu. Dalam pembuatan konten tersebut ada beberapa potongan video yang diambil oleh siswa bersangkutan.
Muhyiddin menjelaskan, pelajar merasa sangat antusias menyambut pembelajaran tatap muka (PTM), sehingga mereka berinisiatif untuk membuat konten. Hanya saja, mereka membuat konten yang berbahaya, yang menimbulkan persepsi negatif.
Karena itu, mantan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Makassar ini mencoba memberi edukasi kepada siswa SMP 21 bahwa penggunaan gawai harus lebih hati-hati. Ada banyak konten positif yang bisa dibuat oleh mereka yang berusia pelajar. Misalnya membuat konten inspiratif terkait prestasinya.
“Makanya, kami masuk di beberapa kelas, mengingatkan peserta didik bahwa kalau mau buat konten, buatlah yang sifatnya prestasi,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Sekolah SMP 13 Makassar Ramli mengatakan siswanya tidak terlibat dalam pembuatan konten tersebut. Ia hanya datang untuk melerai yang bersangkutan. Pihaknya pun sudah mendengar penjelasan dari siswanya.
“Kebetulan dia pulang dijemput sepupunya. Karena dia kenal yang berselisih, makanya dipisahkan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 21 Makassar Marwis mengatakan, kejadian berlangsung pada Jumat, 8 Januari lalu. Mereka yang membuat konten adalah siswi kelas VIII alias kelas II SMP. Kejadian berlangsung di depan sekolah, setelah jam pelajaran. Dia berjanji, ke depan pihaknya akan tetap mengawasi siswa agar kejadian tak terulang lagi. (rhm)

