SINJAI, BKM — Minggu (29/1) malam pukul 21.00 Wita. Dua orang lelaki menuju parkiran motor sebuah rumah sakit di Watampone, Kabupaten Bone. Satu di antaranya menggendong sesosok tubuh mungil.
Bayi laki-laki itu terbungkus kain sarung. Ia sudah tak lagi bernyawa. Yang menggendong adalah pamannya bernama Agus. Sementara pria yang satunya adalah ayah sang bayi. Namanya Asdar.
Mereka mendekati sebuah sepeda motor Yamah Mio warna hitam bernomor polisi DW 3015 DE. Asdar yang pertama kali naik. Disusul kemudian Agus. Ia tetap menggendong mayat ponakannya.
Perjalanan di malam hari itu pun dimulai. Mereka hendak menuju ke Kabupaten Sinjai. Tepatnya di Lingkungan Batu Lappa, Kelurahan Samataring, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai.
Asdar yang berprofesi sebagai pekerja buruh lepas bersama adiknya Agus nekat menggunakan sepeda motor membawa pulang jasad bayinya setelah dinyatakan meninggal dunia oleh pihak RSUD Datu Pancaitana, Kabupaten Bone. Mereka tiba di rumah duka pada tengah malam pukul 22.30 Wita.
Anak ketiga pasangan Asdar dan Juliatun Mariani lahir prematur. Proses kelahirannya dengan cara disesar di RSUD Sinjai, karena sebelumnya ibu bayi mengalami pendarahan. Setelah lahir, bayinya dirujuk ke RSUD Datu Pancaitana, Bone karena didiagnosa berat badan lahir rendah. Sementara alat bantu pernapasan yang disebut continuous positive airway pressure (CPAP) yang ada di RSUD Sinjai semuanya terpakai. Sementara ibu bayi, Juliatun Mariani tetap menjalani perawatan media di RSUD Sinjai.
Sehari setelah menjalani perawatan di RSUD Datu Pancaitana, kondisi kesehatan sang bayi menurun. Hingga akhirnya meninggal dunia.
BKM menemui Asdar di kediamannya, Selasa (1/2). Dengan nada terbata-bata, ia menuturkan bahwa apa yang dilakukannya itu karena dirinya tidak punya cukup uang untuk membayar biaya ambulans dari Bone ke kampungnya di Sinjai Timur.
Asdar mengaku sempat meminta kebijakan kepada manajemen RSUD Datu Pancaitana agar biaya pengantaran jenazah bayinya bisa dikurangi Rp100 ribu. Karena pembayaran yang diminta sebesar Rp700 ribu, sementara uangnya hanya Rp600 ribu. Sayang, permintaan itu tak direspons.
“Saya meminta kepada manajemen RSUD Pancaitana agar diberi kebijaksanaan dengan mengurangi jumlah biaya pengantaran jenazah bayi saya, namun tetap tidak diberi. Biaya ambulans yang diminta untuk mengantar jenazah anak saya Rp700 ribu. Saya meminta kebijakan karena uang yang saya miliki pada saat di Bone hanya Rp600 ribu. Karena tidak ada kebijakan, terpaksa jenazah saya bawa pulang dengan membonceng pakai motor,” terang Asdar.
Menyusul kejadian ini, pihak RSUD Pancaitana, Bone mendatangi rumah Asdar, kemarin. Rombongan yang dipimpin Kepala Bagian Administrasi, Fahruddin itu datang untuk melakukan klarifikasi sekaligus meminta maaf kepada pihak keluarga. Ia menyebut peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi pihaknya.
”Tujuan kami datang ke rumah Bapak Asdar ini untuk menunjukkan itikat baik, sekaligus mengklarifikasi serta meminta maaf kepada Pak Asdar beserta keluarga. Dengan kejadian ini, kami manajemen rumah sakit akan melakukan perbaikan ke depannya,” ujar Fahruddin.
Fahruddin mengakui ada informasi yang terputus sehingga permintaan keluarga pasien agar biaya pengantaran jenazah diturunkan, tidak disampaikan ke manajemen mobil ambulans.
“Kebijakan itu selalu ada, yang penting dikomunikasikan. Cuma, kekurangan teman-teman yang bertugas saat itu tidak melakukan konfirmasi ke kami. Apalagi kejadian tersebut pada Minggu malam. Masih hari libur,” ucapnya.
Fahruddin berdalih, untuk mobil ambulans, pihaknya sering menggratiskan kepada pengguna. ”Bahkan kami menanggung bahan bakar dan yang lainnya. Hanya saja, hal tersebut tidak disampaikan ke pihak manajemen.
Komunikasinya terputus di sopir. Kebijakan itu bisa diambil, namun pengambil keputusan tidak mendapat informasi serta data-datanya,” jelasnya.
Fahruddin menambahkan sekaligus menegaskan bahwa dirinya sudah mendapatkan perintah dari direktur RSUD Datu Pancaitana untuk melakukan pemecatan terhadap sopir ambulans yang berkomunikasi dengan Asdar.
“Saya sudah mendapatkan perintah dari Ibu Direktur untuk melakukan pemecatan terhadap sopir ambulans ini,” tandas Fahruddin di hadapan Asdar sekeluarga
.
”Untuk itu, pihak RS Pancaitana Bone melalui direktur bersama seluruh manajemen meminta maaf atas ketidaknyamanan keluarga pasien yang sesungguhnya hanya karena informasi tidak sampai. Kebijakan RS Pancaitana selalu pro masyarakat karena rumah sakit ini milik pemerintah,” kuncinya.
(din/b)

